Thursday, September 29, 2011

ASUHAN KEPERAWATAN BRONKITIS

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien, dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Dinegara barat, kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. 2. TUJUAN Dengan mempelajari pembahasan ini diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yaitu : • Tujuan umum • Memenuhi tuntutan perkuliahan dengan metode SCL/SGD • Melatih kemandirian mahasiswa dalam mencari materi perkuliahan • Tujuan khusus • Memahami tentang pengertian, etiologi dan patofisiologi beserta gejala-gejala yang timbul pada penyakit BRONKHITIS • Mampu mempresentasikan dan menjawab fenomena dan pertanyaan-pertanyaan mengenai penyakit BRONKHITIS • Mampu mengatasi masalah pada penderita BRONKHITIS dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan sesuai kebutuhan pasien. BAB II TINJAUAN TEORI 1. DEFINISI Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai oleh adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronchitis kronis dan empisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien, dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronic obstructive pulmonary disease (COPD). Dinegara barat, kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. 2. Tanda dan gejala Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobus atas sering memberikan gejala: Keluhan-keluhan - Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis, jumlah seputum bervariasi, umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen, dapat memberikan bau yang tidak sedap. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah berat, misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, purulen, dan apabila ditampung beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian: • Lapisan teratas agak keruh • Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva ( ludah ) • Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). - Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis, kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ), haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru, drainasenya baik, sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk., pasien tanpa batuk atau batukya minimal. Pada tuberculosis paru, bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. - Sesak nafas ( dispnea ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ), yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ), akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. - Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru, sehingga sering timbul demam (demam berulang). - Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis, jari tubuh, manifestasi klinis komplikasi bronchitis. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tanda-tanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat, dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. - Sindrom kartagenr. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut: Bronchitis congenital, sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia, left sided gall bladder, left-sided liver, right-sided spleen. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. - Bronchitis. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. Kelainan ini bukan merupakan tanda klinis bronchitis, kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi, selanjutnya terjadilah bronchitis. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat. - Kelainan laboratorium. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Seing ditemukan anemia, yang menunjukan adanya infeksi kronik, atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic, perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder. - Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level, mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena, ditemukan juga bercak-bercak pneumonia, fibrosis atau kolaps. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. - Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ), terdapat tendensi penurunan, karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi, yang berpengaruh pada perfusi paru. - Tingkatan beratnya penyakit 1. Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam, ada haemaptoe ringan, pasien tampak sehat dan fungsi paru norma, foto dada normal. 2. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat, sputum timbul setiap saat, (umumnya warna hijau dan jarang mukoid, dan bau mulut meyengat), adanya haemaptoe, umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena, gambaran foto dada masih terlihat normal. 3. Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak, berwarna kotor dan berbau. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea, sianosis atau tanda kegagalan paru. Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik, sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit, infeksi mata , pasien mudah timbul pneumonia, septikemi, abses metastasis, amiloidosis. Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking, multiple cysts containing fluid levels. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. 3. Etiologi Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat. - Kelainan Congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut: Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya, misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ), sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal, sinusitis paranasal dan situs inversus ), hipo atau agamaglobalinemia, bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis, ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ), bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus, penyakit jantung bawaan, kifoskoliosis konginetal. - Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : a. Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama, pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak, tuberculosis paru dan sebagainya. b. Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum, karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus. 4. Askep teoritis a. pengkajian - Biodata - Riwayat kesehatan - Gali secara rinci mengenai faktor-faktor di masa lalu - Kejadian yang menunjukan status sistem pernafasan - Faktor dan kejadian yang mempengaruhi fungsi sistem pernafasan - Pemeriksaan fisik : Kaji TTV, tingkat kesadaran, sistem pernafasan Keadaan psikologis - Analisis data ; DO / DS b. Diognosa 1) Bersihkan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan batuk 2) Resiko penurunan aktipitas berhubungan dengan kelemahan umum. c. Intervensi 1) Bersihkan jalan nafas tida efektif berhubungan dengan batuk : - tempatkan pasien dalam fowler tinggi - anjurkan klien batuk efektif 2) Resiko penurunan aktipitas berhubungan dengan kelemahan umum : - pantau asupan cairan dan elektrolitnya. - Kolaborasi dengan tim dokter d. Inflementasi e. Evaluasi BAB III TINJAUAN KASUS I. PENGKAJIAN a. Indentitas Klien 1. Nama : Tn R.H 2. Umur / TTL : 40 thn / Gorontalo 3 maret 1961 3. Jenis Kelamin : ♂ 4. Agama : Islam 5. Alamat : Tamalate 6. Suku Bangsa : Gorontalo 7. Pekerjaan : Sopir 8. Pendidikan : SD 9. Status Kawin : Kawin 10. Dx. Medis : Bronkhitis 11. Tgl Masuk/jam : 12-04-2010 12. Tgl Pengkajian : 12-04-2010 b. Riwayat kesehatan 1. Keluhan utama: Klien mengeluh sesak nafas saat beraktifitas 2. Riwayat Kesehatan Sekarang : Klien masuk RS dengan keluhan nyeri dada, sesak nafas, susah BAB, pusing 3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu: Klien dimasa anak-anak pernah mengalami kecelakaan Flu berat dan klien juga pernah mengalami kecelakaan mobil. Klien tidak pernah mengalami pembedahan klien juga tidak punya riwayat alergi baik terhadap makanan maupun obat-obatan. Klien juga perokok dan tidak juga pengguna alcohol.setiap waktu klien mengatakan sesak nafas. 4. Riwayat Kesehatan Keluarga: Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti yang dialami klien sekarang c. Pemeriksaan Fisik : 1. Keadaan Umum : Sedang Tanda-tanda Vital: Suhu badan: 36 ºc Pernafasan : 30 kali/m Denyut Nadi : 84 kali/m Tekanan Darah : 130 / 60 Berat Badan : 48 kg Tinggi Badan : 156 cm 2. Sistem Pernafasan : - Hidung : Reaksi alergi : Tidak ada Klien pernah mengalami Flu, frekwensinya ± 3 bulan sekali dalam setahun - Leher : Inspeksi : Vena jugualar tidak tampak Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid - Dada : Bentuk normal CHEST, perbandinganya 1 banding 2 gerakan dada terbatas, sura nafas takipnea, ada bunyi nafas tambahan ( ronchi) - Clubing : Tidak ada d. Anaflisis data No. Data Penyebab Masalah 1 DS : • Klien mengatakan sesak waktu beraktivitas • Klien mengeluh batuk DO : • Sputum (+) • K.U Lemah • Tampak sesak • Tipe pernafasan takipnea • Tanda “ VITAL” - TD : 130/60 mmhg - SB : 36 ºC - DN : 84 kali/menit - P : 30 kali/menit Invasi virus H. Pilory Reaksi Imanologi Peningkatan sputum Obstruksi jalan nafas Sesak nafas Bersihan jalan nafas tidak efektif 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan batuk dan sesak. Di tandai dengan: adanya sputum 2. Resiko penurunan aktiftas berhubungan dengan kelemahan umum di tandai dengan: TD 130/60 3. INTERVENSI KEPERAWATAN No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Bersihan jalan nafas tak Efektif berhubungan dengan batuk dan sesak di tandai dengan adanya sputum. Jalan nafas kembali efektif dengan Kriteria : • K.U Baik • Sesak nafas berkurang • Batuk berkurang • Tidak berkeringat dingin • Batuk tidak berlendir • Bunyi nafas normal - Beri banyak minum ± 1500 cc/h - Atur posisi klien - Ajurkan klien agar melakukan batuk yang efektif - Lakukan fisioterapi dada - Observasi TTV - Kolaborasi dengan dokter. Pemberian O2 - Dengan memberi banyak minum dapat mengecerkan sputum sehingga mudah di keluarkan - Mudah memberikan posisi yang nyaman dapat mengurangi sesak nafas yg dirasakan oleh klien - Dengan mengajurkan agar melakukan batuk yang efektif dapat membantu mengeluarkan sputum - Dapat melepaskan sputum yang melekat di dinding saluran pernafasan - Mengobservasi TTV dapat mengetahui perkembangan tindakan perawatan selanjunya - Dengan kolaborasi dgn dokter dalam pemberian obat diharapkan bisa mengurangi keluhan dari klien DAFTAR PUSTAKA Donna, I. 1991. Medical Surgical Nursing: Nursing Process Approach. Philadelphia. Mosby Guyton, A & Hall, JE. 1996. Medical Phisiology. W.B Sauders Company. Philadelphia Luckman & Sorensen. 1990. Medical Surgical Nursing. WB Sauders Company. Philadelphia Muttaqin A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika

No comments:

Post a Comment