Thursday, September 29, 2011

PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK

PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK A. KEPALA  Bentuk kepala ; makrosefali atau mikrosefali  Tulang tengkorak :  Anencefali : tidak ada tulang tengkorak  Encefalokel : tidak menutupnya fontanel occipital  Fontanel anterior menutup : 18 bulan  Fontanel posterior : menutup 2 – 6 bulan  Caput succedeneum : berisi serosa , muncul 24 jam pertama dan hilang dalam 2 hari  Cepal hematoma : berisi darah,muncul 24 – 48 jam dan hilang 2 – 3 minggu  Distribusi rambut dan warna  Jika rambut berwearna / kuning dan gampang tercabut merupakan indikasi adanya gangguan nutrisi  Ukuran lingkar kepala 33 – 34 atau < 49 dan diukur dari bagian frontal kebagian occipital. B. MUKA  simetris kiri kanan  Tes nervus 7 ( facialis )  Sensoris : Menyentuhkan air dingin atau air hangat daerah maksilla dan mandibula dan menyebutkan apa yang dirasakan.  Motorik : pasien diminta mengerutkan dahi,kemudian menutup mata kuat-kuat sementara jari-jari pemeriksa menahan kedua kelopak mata agar tetap terbuka.  Tes nervus 5 ( trigeminus )  Sensorik : menyentuhkan kapas pada daerah wajah dan apakah ia merasakan sentuh tersebut  Motorik : menganjurkan klien untuk mengunyah dan pemeriksa meraba otot masenter dan mandibula. C. MATA  simetris kanan kiri  Alis tumbuh umur 2-3 bulan  Kelopak mata :  Oedema  Ptosis : celah kelopak matamenyempit karena kelopak mata atas turun.  Enof : kelopak mata mnyempit karena kelopak mata atas dan bawah tertarik kebelakang.  Exoptalmus : pelebaran celah kelopak mata, karena kelopak mata atas dan bawah tertarik kebelakang.  Pemeriksaan nervus II ( optikus),test konfrontasi dan ketajaman penglihatan.  Sebagai objek mempergunakan jari  Pemeriksa dan pasaien duduk berhadapan ,mata yang akan diperiksa berhadapan dengan mata pemeriksa ,yang biasanya berlawanan, mata kiri dengan mata kanan,pada garis ketinggian yang sama.  Jarak antara keduanya berkisar 60 – 100 cm. Mata yang lain ditutup,obyek mulai digerakkkan oleh pemeriksa mulai dari samping telinga ,apabila obyek sudah tidak terlihat oleh pemeriksa maka secara normal obyek tersebut dapat dillihat oleh pasien.  Anak dapat disuruh membaca atau diberikan Snellen Chart.  Pemeriksaan nervus III ( Oculomotoris refleks cahaya)  Pen light dinyalakan mulai dari samping) atrau, kemudian cahaya diarahkan pada salah satu pupil yang akan diperiksa, maka akan ada rekasi miosis.  Apakah pupil isokor kiri atau kanan  Pemeriksaan Nervus IV ( Troclearis ) pergerakan bola mata  Menganjurkan klien untuk melihat ke atas dan ke bawah.  Pemeriksaan nervus VI ( Abdusen )  Menganjurkan klien untuk melihat ke kanan dan ke kiri.  Pemeriksaan nervus V( Trigeminus) Refleks kornea  Tutup mata yang satu dengan penutup  Minta klien untuk melirik kearah laterosuperior ( mata yang tidak diperiksa)  Sentuhkan pilinan kapas pada kornea, respon refleks berupa kedipan kedua mata secara cepat.  Glaberal refleks: mengetuk dahi diantara kedua mata,hasil positif bila tiap ketukan mengakibatkan kedua mata klien berkedip.  Doll eye refleks : bayi dipalingkan dan mata akan ikut ,tapi hanya berfookus pada satu titik. D. HIDUNG  Posisi hidung apakah simetris kiri kanan  Jembatan hidung apakah ada atau tidak ada, jika tidak ada diduga down syndrome.  Cuping hidung masih keras pada umur < 40 hari  Pasase udara : gunakan kapas dan letakkan di depan hidung, dan apabila bulu kapas bergerak, berarti bayi bernafas.  Gunakan speculum untuk melihat pembuluh darah mukosa, secret, poliup, atau deviasi septum.  Pemeriksaan nervus I ( Olfaktoris)  Tutup salah satu lubang hidung klien ,berikan bau bauan , lalu klien diminta untuk menyebutkan bau apa.Tiap hidung diuji secara terpisah. E. MULUT  Bibir kering atau pecah – pecah  Periksa labio schizis  Periksa gigi dan gusi apakah ada perdarahan atau pembengkakan  Tekan pangkal lidah dengan menggunakan spatel,hasil positif bila ada refleks muntah ( Gags refleks)  Perhatikan ovula apakah simetris kiri dan kanan  Pemeriksaan nervus X ( VAGUS )  Tekan lidah dengan menggunakan spatel, dan anjurkan klien untuk memngatakan “ AH “ dan perhatikan ovula apakah terngkat.  Pemeriksaan nervus VII ( facialis) sensoris  Tetesi bagian 2/3 anterior lidah dengan rasa asin, manis dan pahit, kemudian menentukan zat apa yang dirasakan dan 1/3 bagian belakang lidah untuk pemeeriksaan Nervus IX.  Pemeriksaan Nervus XI Hipoglosus  Menyuruh pasien untuk menjulurkan lidah lurus lurus kemudian menarik dengan cepat dan disuruh menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan dan sementara itu pemeriksa melakukan palpasi pada kedua pipi untuk merasakan kekuatn lidah.  Rooting refleks : bayi akan mencari benda yang diletakkan disekitar mulut dan kemudian akan mengisapnya.  Dengan memakai sarung tangan, masukkan jari kelingking kedalam mulut, raba palatum keras dan lunak apabila ada lubang berarti labio palato shizis,kemudian taruh jari kelingking diatas lidah , hasil positif jika ada refleks mengisap (Sucking Refleks) F. TELINGA  Simetris kiri dan kanan  Daun telinga dilipat, dan lama baru kembali keposisi semula menunjukkan tulang rawan masih lunak.  Cana;lis auditorious ditarik kebawah kemudian kebelakang,untuk melihat apakah ada serumen atau cairan.  Pemeriksaan tes nervus VIII (Acustikus)  menggesekkan rambut, atau tes bisik.  Mendengarkan garpu tala (Tes Rinne,Weber)  Starter refleks :tepuk tangan dekat telinga, mata akan berkedip. G. LEHER.  Lipatan leher 2-3 kali lipat lebih pendek dari orang dewasa.  Periksa arteri karotis  Vena Jugularis  posisi pasien semifowler 45 dan dimiringkan,tekan daerah nodus krokoideus maka akan tampak adanya vena.  Taruh mistar pada awal dan akhir pembesaran vena tersebut kemudian tarik garis imajiner untuk menentukan panjangnya.  Raba tiroid : daerah tiroid ditekan,dan p[asien disuruh untuk menelan,apakah ada pembesaran atau tidak.  Tonick neck refleks : kedua tangan ditarik, kepala akan mengimbangi.  Neck rigting refleks refleks : posisi terlentang,kemudian tangan ditarik kebelakang,pertama badan ikut berbalik diikuti dengan kepala.  Pemeriksaan nervus XII (Asesoris)  Menganjurkan klien memalingkan kepala, lalu disuruh untuk menghadap kedepan ,pemeriksa memberi tahanan terhadap kepala.sambil meraba otot sternokleidomasatodeus. H. DADA  Bentuk dada apakah simetris kiri dan kanan  Bentuk dada barrel anterior – posterior dan tranversal hampir sama 1:1 dan dewasa 1: 2  Suara tracheal : pada daerah trachea, intensitas tinggi, ICS 2 1:1  suara bronchial : pada percabangan bronchus, pada saat udara masuk intensitas keraspada ICS 4-5 1:3  Suara broncho vesikuler : pada bronchus sebelum alveolus, intensitas sedang ICS 5.  suara vesikuler : pada seluruh bagian lateral paru, intensitas rendah 3:1  Wheezing terdengar pada saat inspirasi dan rales pada saat ekspirasi  Perkusi pada daerah paru suara yang ditimbulkan adalah sonor  Apeks jantung pada mid klavikula kiri intercostals 5  Batas jantung pada sternal kanan ICS 2 ( bunyi katup aorta), sternal kiri ICS 2 ( bunyi katup pulmonal), sternal kiri ICS 3-4 ( bunyi katup tricuspid), sternal kiri mid klavikula ICS 5 ( bunyi katup mitral).  Perkusi mpada daerah jantung adalah pekak. I. ABDOMEN  Tali pusat : Dua arteri satu vena.  Observasi adanya pembengkakan atau perdarahan.  Observasi vena apakah terbayang atau tidak.  Observasi distensi abdomen.  Terdengar suara peristaltic usus.  Palpasi pada daerah hati, teraba 1 – 2 cm dibawah costa, panjangnya pada garis media clavikula 6 – 12 cm.  Palpasi pada daerah limpa pada kuadran kiri atas  Perkusi pada daerah hati suara yang ditimbulkan adakah pekak Perkusi pada daerah  lambung suara yang ditimbulkan adalah timpani  Refleks kremaster : gores pada abdomen mulai dari sisi lateral kemedial terlihat kontraksi. J. PUNGGUNG.  Susuri tulang belakang , apakah ada spina bivida okulta : ada lekukan pada lumbo sacral,tanpa herniasi dan distribusi lanugo lebih banyak.  Spina bivida sistika : dengan herniasi , meningokel ( berisi meningen dan CSF) dan mielomeningokel ( meningen + CSF + saraf spinal).  Rib hum and Flank: dalam posisi bungkuk jika tulang belakang rata/simetris ( scoliosis postueral) sedangkan jika asimetris atau bahu tinggi sebelah dan vertebra bengkok ( scoliosis structural) skoliometer >40 K. TANGAN  Jumlah jari – jari polidaktil ( .> dari 5 ) , sindaktil ( jari – jari bersatu)  Pada anak kuku dikebawakan, dan tidak patah , kalau patah diduga kelainan nutrisi.  Ujung jaru\i halus  Kuku klubbing finger < 180 ,bila lebih 180 diduga kelainan system pernafasan  Grasping refleks : meletakkan jari pada tangan bayi, maka refleks akan menggengam.  Palmar refleks : tekan pada telapak tangan ,akan menggengam L. PELVIS  CDH : test gluteal , lipatan paha simetris kiri kanan  Ortholani test : lutut ditekuk sama tinggi/tidak  Barlow test : kedua lutut ditekuk dan regangkan kesamping akan terdengar bunyi klik  Tredelenburg test : berdiri angkat satu kaki, lihat posisi pelvis apakah simetris kiri dan kanan.  Waddling gait : jalan seperti bebek.  Thomas test : lutut kanan ditekuk dan dirapatkan kedada,sakit dan lutut kiri akan terangkat M. LUTUT  Ballotemen patella : tekan mendorong kuat akan menimbulkan bunyi klik jika ada cairan diantaranya  Mengurut kantong supra patella kebawah akan timbul tonjolan pada kedua sisi tibia jika ada cairan diduga ada atritis.  Reflek patella, dan hamstring. N. KAKI  Lipatan kaki apakah 1/3, 2/3, bagian seluruh telapak kaki.  Talipes : kaki bengkok kedalam.  Clubfoot : otot-otot kaki tidak sama panjang, kaki jatuh kedepan  Refleks babinsky  Refleks Chaddok  Staping Refleks PEMERIKSAAN SISTEM NEUROLOGIS  Persiapan Alat  Penlight  Penggaris  Kapas lilin  Bahan / benda untuk dcium  Jarum  Air hangat atau dingin.  Gula / garam  Persiapan lingkungan  Menyuiapkan lingkungan yang tenang  Memaasang tirai sekitar pasien  Persiapan Pasien  Melakukan pendekatan kepada anak / ibu dan menjelaskan tentrang pemeriksaan yang akan dilakukan. Pelaksanaan: 1. TES FUNGSI SEREBRAL a. Tingkat kesedaran GCS ( Nilai normal 15 ) Respon membuka mata = 4 Respon verbal = 5 Respon motorik = 6 Pemeriksaan : 1) Respon mata Membuka mata spontan (4) Buka mata atas perintah (3) Buka mata terhadap nyeri (2) Tidak ada respon (1) 2) Respon verbal Respon verbal tepat (5) Bingung (4) Berkata-kata respon tidak tepat (3) Respon tidak bermakana (2) Tidak ada respon (1) 3) Respon motorik Sesuai perintah verbal (6) Mengenali nyeri local (5) Menarik diri dari rangsangan nyeri (4) Fleksi abnormal ( Dekortikasi ) (3) Ektensi abnormal ( Decerebrasi ) (2) Tidak da respon (1) b. Status mental • Orentasi • Daya ingat • Perhatian dan Perhitungan • Fungsi bahasa c. Pengkajian bicara • Proeses resertif : ucap baca • Proses exspresive : ekspresi 2. TES FUNFSI CEREBELUM a. Untuk keseimbangan : Jalan dengan satu kaki dalam satu garis lurus b. Fungsi koordinasi c. Postur tubuh 3. TES FUNGSI SENSORIK a. Rasa sakit b. Vibrasi : Pemeriksaan dengan garpu tala c. Posisi : ujung jari –jari disentuh dengan ibu jari d. Sentuhan kapas e. Diskriminasi: stereogenesis, grafhestesia, two poin stimulation. 4. TES FUNGSI MOTORIK Terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan : a. Masa otot : Hipertropi, normal, atropi. b. Tonus otot : Hipertonik atau hipotonik c. Kekuatan otot : Pemeriksa menggerakan pasien menahan tau pasien menggerakan pasien menahan. Penilaian : 0 Tidak ada kontraksi 1 Terlihat kontraksi tapi tidak ada pergerakan pada sendi 2 Ada gerakan pada sendi tapi tidak dapat melawan grafitasi 3 Bisa melawan gravitasi tapi tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 Bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa dengan tahanan minimal 5 Dapat melawan kekuatan pemeriksa dengan kekuatan maksimal. Tes Fungsi Nervus Kranial 1. Nervus I ( Olfaktorius ) Prosedur :Tutup salah satu lubang hidung klien ,berikan bau bauan , lalu klien diminta untuk menyebutkan bau apa.Tiap hidung diuji secara terpisah. Cek satu-satu lubang hidung dengan bau-bauan ( sebaiknya gunakan bau- bauan yang berbeda ) 2. Nervus II ( Opticus ) penglihatan Sebagai objek mempergunakan jari Pemeriksa dan pasien duduk berhadapan, mata yang akan diperiksa berhadapan dengan mata pemeriksa yang biasanya berlawanan, mata kiri dengan mata kanan,pada garis ketinggian yang sama. Jarak antara keduanya berkisar 60 – 100 cm. Mata yang lain ditutup, obyek mulai digerakkkan oleh pemeriksa mulai dari samping telinga ,apabila obyek sudah tidak terlihat oleh pemeriksa maka secara normal obyek tersebut dapat dillihat oleh pasien.Anak dapat disuruh membaca atau diberikan Snellen Chart. 3. Tes nervus III : Nervus III , IV,VI ( dilakukan bersamaan )  Pen light dinyalakan mulai dari samping) atrau, kemudian cahaya diarahkan pada salah satu pupil yang akan diperiksa, maka akan ada rekasi miosis.  Apakah pupil isokor kiri atau kanan 4. Tes nervus IV:  Minta klien untuk melihat kearah bawah dan ke arah atas  Perhatikan gerakan mata ke bawah dan keatas. 5. Tes Nervus VI :  Minta klien untuk melihat kearah lateral kiri dan kanan  Perhatikan gerakan mata ke arah lateral kiri dan kanan. 6. Tes nervus V Nervus V dan VII ( dilakukan bersamaan )  Refleks kornea ,minta klien untuk melirik kearah lateral superior ,  Sentuhkan ujung kapas yang sudah dipilin pada kornea, bila langsung berkedip refleks kornea baik, dan bandingkan refleks kedua mata.  Tes nevus V dan VII Prosedur tes sensorik  Tutup mata  Untuk sensoris : Perhatikan tonus otot dan catat kesimetrisan Sensoris : Menyentuhkan air dingin atau air hangat daerah maksilla dan mandibula dan menyebutkan apa yang dirasakan  Motorik : pasien diminta mengerutkan dahi,kemudian menutup mata kuat-kuat sementara jari-jari pemeriksa menahan kedua kelopak mata agar tetap terbuka.  Rasa kecap : tes rasa asin, pahit dan apakah klien dapat membedakan atau tidak. Prosedur tes motorik  Minta pasien memperlihatkan gigi  Palpasi temporal dan otot maseter bilateral 7. Nervus VIII ( Akustikus )  Garputala ( Rinne, Weber, dan Swabach)  Tes bisik. 8. Nervus IX dan X ( glasopaaaringeus ddan vagus ).  Masukan tong spatel atau minta pasien mengatakan “ Ah “  Lihat soft palatum, Apakah simetris, terjaadi deviasi.  Sentuh ujung palatum soft bagian posterior, lihat adanya respon bergerak ke atas. 9. Nervus XI Untuk Sternoeloedomastoideus  Kepala pasien minta ke kanan, kita putar kearah depan ( tarik dengan kekuatan )  Inspeksi dan palpasi otot sternoeloedomastoideus , apakah kelemahan, atropi. Menyuruh pasien untuk menjulurkan lidah lurus lurus kemudian menarik dengan cepat dan disuruh menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan dan sementara itu pemeriksa melakukan palpasi pada kedua pipi untuk merasakan kekuatan lidah.  Untuk Trapezius Pasien suruh angkat bahu Bahu pasien didorong oleh pemeriksa 10. Nervus XII ( Hipoglosus).  Perhatikan lidah dalam posisi istirahat  Apakah simetris atau ada fasikulasi  Bagaimana refleks lidah waktu ditekan dengan spatel  Minta pasien mendorong lidahnya untuk menahan depressor  Menganjurkan klien memalingkan kepala, lalu disuruh untuk menghadap kedepan, pemeriksa memberi tahanan terhadap kepala.sambil meraba otot sternokleidomasatodeus.

No comments:

Post a Comment