Senin, 18 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang semakin meningkat, termasuk kemajuan dibidang kesehatan, namun peningkatan penyakit infeksi masih saja tinggi, termasuk infeksi akibat luka. therapi intravena yang salah satunya. phlebitis, seharusnya kejadian itu dicegah atau diminimalkan melalui asuhan keperawatan yang sesuai dengan prosedur tindakan keperawatan termasuk perhatian yang seksama terhadap bagaimana cara. pemasangan therapy intravena, keadaan therapi intravena terpasang keadaan penutup yang digunakan dan perawatan therapy intravena (http://www.Akpersoepraoen, 2007).
Pemasangan therapi intravena merupakan salah satu bentuk yang sering digunakan dalam pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Lebih dari 60% pasien yang masuk ke rumah sakit mendapat therapi melalui therapi intravena (IV) (Hindley dalam Handoyo, 2004). Lebih dari 300 juta TV kateter yang berupa kateter plastik atau teflon dan jarum logam digunakan pada rumah sakit dalam negeri (Data Medis Internasional, 2000).
Berkaitan dengan tindakan tersebut, maka telah diidentifikasi suatu masalah keperawatan yang sering dijumpai yaitu terjadinya plebitis dan ekstravasasi vena (Wright dalam Handoyo, 2001). Komplikasi yang paling sering terjadi akibat dari therapi intravena adalah plebitis, suatu implamasi vena yang terjadi akibat tidak berhasilnya penusukan vena, kontaminasi alat IV dan penggunaan cairan hipertonik yang tidak adekuat yang secara kimiawi dapat mengiritasi vena (Josephson dalam Handoyo, 2001).
Plebitis dapat diklasifikasikan dalam 3 tipe : Bakterial, Kimiawi dan Mekanikal (Campbell dalam Handoyo, 2001). Adapun faktor‑faktor yang berkontribusi terhadap kejadian plebitis ini termasuk : tipe bahan kateter, lamanya pemasangan, tempat insersi, jenis penutup (dressing), cairan intravena yang digunakan, kondisi pasien, teknik insersi kateter dan ukuran kateter (Oishi dalam Handoyo, 2001).
Tindakan pemasangan infus begitu banyak dilakukan pada sebagian besar pasien yang dirawat, oleh karena itu perawat mempunyai tugas profesional untuk mengenali dan mencegah hal‑hal yang berhubungan den‑an terjadinya komplikasi plebitis. Tindakan perawat selalu dilakukan untuk mencegah dan meningkatkan kesehatan pasien/klien. Pemasangan kanula pada therapi IV merupakan isu penting, dimana perawat bertanggung jawab dalam pemasangan therapi IV. Oleh karena itu untuk meminimalkan resiko plebitis, perawat perlu menyadari dan mengenali faktor-faktor apa saja yang berkontribusi terhadap, kejadian plebitis (Hindley dalam Handoyo, 2004).
Dari data yang diperoleh dari Bagian PPIRS (Pusat Penanggulangan Infeksi Rumah Sakit) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu pada tahun 2008 dari 127 pasien/minggu yang terpasang infus, terdapat 43 pasien (32,6%) dilakukan pemasangan therapi intravena yang tidak sesuai dengan protap, sehingga ditemukan 23 pasien (16,8%) menderita gejala plebitis.
Berdasarkan survey awal dari tanggal 20 sampai dengan 27 Juni 2009 yang penulis lakukan di Ruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu ditemukan 5 dari pasien yang dipasang infuse terdapat 3 pasien (60%) yang cara pemasangan therapy intravena tidak sesuai dengan protap. Karena perawat tidak mencuci tangan terlebih dahulu dan tidak memakai handscound. Dari 3 pasien itu terdapat 1 pasien (20%) yang mengalami plebitis dengan gejala pembengkakan dan peningkatan suhu tubuh.
Dari uraian di atas penulis tertarik dan berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul ”Gambaran Penggunaan Jarum dan Prosedur Tindakan Pemasangan Infus Pada Pasien Yang Mengalami Plebitis di Ruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagiamanakah Gambaran Penggunaan Jarum dan Prosedur Tindakan Pemasangan Infus Pada Pasien Yang Mengalami Plebitis di Ruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Penggunaan Jarum dan Prosedur Tindakan Pemasangan Infus Pada Pasien Yang Mengalami Plebitis di Ruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran jumlah pasien plebitis diruang Melati C2 RSUD Dr.M. Yunus Bengkulu.
b. Untuk mengetahui gambaran ukuran jarum kateter vena yang digunakan oleh pasien plebitis.
c. Untuk mengetahui gambaran prosedur tindakan pemasangan infus pada pasien phlebitis.
3. Manfaat Penelitian
a. Untuk Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam melaksanakan program pencegahan plebitis.
b. Untuk Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa dan sumber pustaka tentang plebitis.
c. Untuk Penelitian Lain
Sebagai dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut
D. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran studi pustaka yang peneliti lakukan, penelitian ini sebelumnya pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya oleh Heni Wilyani dengan judul “Gambaran Kejadian Plebitis Ditinjau dari Sikap dan Motivasi Perawat di Ruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2008. Beda dengan penelian ini adalah teknik pengumpulan data, jenis dan rancangan penelitian yang dilakukan, serta tahun penelitiannya.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Therapi Intravena (Infus)

Pengertian

Therapi intravena/Pungsi vena adalah sebuah teknik yang digunakan untuk memungsi vena secara transkutan dengan menggunakan jarum (pemflon) yang tajam (jarum kupu‑kupu atau jarum logam) yang sebagian dilapisi oleh kateter plastik atau dengan. jarum yang dipasangkan ke spuit (Perry dan Potter, 2004).
Therapi intravena adalah pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh, melalui sebuah jarum (albocath), kedalam pembuluh darah vena untuk menggantikan kehilangan cairan. atau zat‑zat makanan dari tubuh (Sehatgrup.2007).
Therapi intravena adalah suatu tindakan pemberian cairan atau obat ke dalam tubuh melalui pembuluh darah‑ vena dengan menggunakan jarum logam atau jarum kupu‑kupu.

Ukuran Jarum/Therapi Intravena

Menurut Potter (1999) ukuran jarum infus yang biasa digunakan adalah :
a. Untuk orang dewasa : 18 sampai 22‑G
b. Untuk anak‑anak : 23 sampai 25‑G
c. Untuk bayi : Wings needle (jarum kupu-kupu)

Lamanya penggunaan jarum Therapi intravena

Menurut Kartono dalam Yansyah (2004) lamanya penggunaan jarum therapi intravena harus diganti paling sedikit setiap 24 jam, ganti lokasi vena yang ditusuk jarum therapi intravena setiap 48 Jam.
Secara teknis, lamanya penggunaan jarum kateter intravena (IV) tetap steril selama 48 sampai dengan 72 jam, disamping itu juga teknik ini lebih menghemat biaya dan tidak meningkatkan resiko infeksi (Metheny, 1996).

Daerah Tempat Pemasangan intravena

Menurut Potter (2004) daerah penusukan therapi intravena yang, sering digunakan dan sangat efektif antara lain:
a. Permukaan dorsal tangan
§ Vena sefalika dan basalika
§ Vena superfisial dorsalis
b. Lengan bagian dalam
§ Vena sefalika dan basalika
§ Vena kubitan median
§ Vena Median lengan bawah dan Vena radialis
c. Permukaan dorsal kaki
§ Vena safena magna
§ Vena fleksus dorsalis
§ Vena ramus dorsalis

Komplikasi

a. Hematoma
Yaitu darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh dara vena atau kaviler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
b. Infiltrasi
Yaitu masuknya cairan therapi intravena kedalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum therapi intravena melewati pembuluh darah.
c. Tromboflebitis/plebitis
Bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat therapy intravena yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
d. Emboli udara
Yaitu masuknya udara kedalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan therapi intravena kedalam pembuluh darah (http://www.sehatgrup, 2007).

Prosedur Pemasangan Therapi Intravena

Prosedur pemasangan therapi intravena menurut Potter (2004).
a. Informed Concent
b. Persiapan Alat
1) Cairan infus yang diperlukan, tergantung di tiang infus
2) Infus set :
a) Tutup botol dihapushamakan
b) Tusukan jarum udara dari infus
c) Masukkan cairan kedalam tabung pengatur tetesan sampai ½ tabung dengan cara menekan tabung pengatur tetesan dengan dua jari
d) Buka keran dan keluarkan cairan melalui jarum infus di atas bengkok dengan posisi jarum infus menghadap ke atas untuk mengeluarkan udara, kemudian kran ditutup kembali.
e) Pastikan tidak ada udara di sepanjang selang infus
f) Gantunglah selang infus di tiang dengan menggunakan plaster.
3) Baki beralas berisi :
a) Bak steril yang, berisi sarung tangan dan kasa steril
b) Perlak dan pengalas
c) Alkohol 70% dan kapas bulat pada tempatnya
d) Bengkok satu buah
e) Bidai dan balutan (KP)
f) Potingan plaster
g) Jam tangan yang mempunyai sekon
h) Kantong plastik
i) Jarum albocath atau wing (nomor disesuaikan)
j) Cairan betadhine pada tempatnya dan alat tulis
c. Persiapan Penolong
1. Cuci tangan dengan sabun pada air mengalir dan keringkan dengan handuk/tissue/alat pengering
2. Pasang sarung tangan
d. Pelaksanaan Tindakan
1. Letakkan alat‑alat disamping pasien lalu pengalas dibawah lokasi penusukan
2. Pasang turniket sehingga vena tampak jelas
3. Menghapushamakan kulit dengan cara memutar searah jarum jam dari dalam keluar dan lanjutkan dengan menghapus satu kali dari bagian atas ke bawah.
4. Ibu jari dan telunjuk kanan memegang jarum infus, tangan kiri menyangga bagian akan ditusuk dengan posisi ibu jari dan telunjuk mengfikasasi vena yang akan ditusuk, tiga jari lainnya bagian bawah.
5. Tusukan ujung jarum dengan lubang mengarah ke atas dengan sudut 30 ‑ 40 derajat, bila ujung jarum memasuki lumen vena maka darah akan. keluar melalui vena yang ditusuk
6. Turniket dilonggarkan, selang kateter disejajarkan dengan jalan vena, dorong hingga kateter melewati tusukkan vena sambil ditarik sedikit kemudian dikeluarkan dengan cara tan an kiri menekan pangkal kateter untuk menekan darah tidak keluar dari posisi tangan sedikit pleksi.
7. Sambungkan pangkal kateter dengan selang infus, lalu buka pengatur tetesan secara perlahan‑lahan.
8. Tutup pangkal tusukan dengan kasa steril yang telah diberi betadine kemudian fiksasi dengan plaster.
9. Atur dan hitung tetesan sesuai kebutuhan pasien (20 tetes/menit, 30 tetes/menit, kocor atau asnet).
10. Memasang bidai bila diperlukan
11. Pasang kertas grafik pada botol infus
12. Merapikan pasien kemudian alat‑alat dibereskan
13. Cuci tangan setelah tindakan
Menurut Protap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (2004) prosedur pemasangan therapi intravena adalah sebagai berikut :
1. Informed consent
2. Persiapan alat

Standar Infus
Cairan yang akan diberikan
Infus set
Kapas alcohol
Kasa steril
Gunting
Plaster
Pengalas
Bengkok
Handscond

3. Pelaksanaan

Cuci tangan dengan sabun pada air mengalir dan keringkan dengan handuk/tissue/alat pengering
Pasang sarung tangan
Siapkan area yang akan dipasang therapi intravena
Memeriksa ulang cairan yang akan diberikan
Keluarkan udara dari selang infuse
Menentukan vena yang akan ditusuk
Pasang pengalas
Desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5 ‑ 10 cm
Menusuk jarum infus/albocath pada vena yang telah ditentukan (20 tetes/menit, 30 tetes/menit, kocor atau asnet)
Melakukan fiksasi
Menutup bagian yang ditusuk dengan kasa steril
Menghitung jumlah tetesan sesuai dengan kebutuhan
Memperhatikan reaksi pasien
Mencatat waktu pemasangan, jenis cairan dan jumlah tetesan
Pasien dirapikan
Alat‑alat dibereskan
Perawat cuci tangan setelah selesai tindakan

Hal‑hal yang perlu diperhatikan pada waktu cairan therapi intravena masuk ke dalam tubuh penderita (Bouwhuizen, 1995).

a. Reaksi yang di perlihatkan oleh penderita (hal ini terutama penting, sekali artinya pada waktu pemberian darah).
b. Posisi tan‑an atau tungkai penderita yang tepat
c. Apakah cairan yang kita berikan itu benar‑benar masuk kedalam pembuluh vena dan bukan subkutan. Hal ini dapat kita ketahui dengan terlihat membesarnya atau membengkaknya lengan atau tungkal penderita. Kalau yang dimasukkan itu darah, maka akan timbul hematoma (bercak yang berwarna biru).
d. Kecepatan yang tepat dari pada tetesan cairan yang diberikan
e. Waktu pemasukan cairan yang telah ditetapkan
f. Jumlah cairan yang masih terdapat di dalam botol, dengan perkataan lain, apakah cairan yang tersisah itu masih cukup?
g. Apakah sistem pipa tersumbat mengandung gelembung‑gelembung udara di dalamnya?
h. Apakah cairan itu tidak berhenti menetes.
i. Kemungkinan terlihatnya tanda‑tanda klinis plebitis (radang yang mengenai pembuluh vena).

Penggantian dan pencabutan therapi intravena (Bouwhulzen, 1995).

a. Penggantian botol atau kantong infuse
Bahan‑bahan yang diperlukan
1) Cairan yang telah ditentukan
2) Alkohol 60‑90% serta lidi kapas atau kain kasa berukuran kecil.
3) Cara kerja :
a) Cuci tangan.
b) Bahan‑bahan serta perlengkapan‑perlengkapan yang diperlukan disiapkan pada tempatnya.
c) Penutup botol atau kantong cairan yang akan dimasukkan didesinfeksikan dengan mempergunakan Alkohol 60‑90%.
d) Pipa udara dipindahkan ke penutup botol cairan yang akan diberikan, yang belum dibalikkan
e) Kemudian gantungkanlah botol cairan yang baru itu
f) Pipa pemberi cairan pindahkan ke botol yang baru
g) Buatlah catatan dalam daftar pemberian infus, bahwa telah diberikan botol cairan yang baru dan setelah botol baru ini disambungkan kepada penderita, maka paraflah lembaran tersebut.

b. Pencabutan therapi intravena
Bahan‑bahan yang diperlukan
1) Kain kasa berukuran kecil yang, suci hama (steril)
2) Plaster dan gunting
3) Cara kerja :
a) Cuci tangan.
b) Semua bahan serta perlengkapan yang diperlukan.
c) Berikan penjelasan kepada penderita
d) Pipa pemberi cairan dijepit.
e) Lepaskan semua plaster.
f) Dengan mempergunakan sepotong kain kasa berukuran kecil yang suci hama lakukan penekanan pada tempat tusukan jarum infus, kemudian tariklah jarum itu dengan cepat.
g) Balutkan dengan kuat bebat penutup suci hama pada bekas tempat tusukan jarum tersebut, dengan tujuan agar tidak terjadi perdarahan susulan.
h) Buatlah catatan bahwa infus tersebut telah dilepaskan, serta catat pula kemungkinan adanya sejumlah sisa cairan yang masih tinggal di dalam botol.
i) Bersihkan, kumpulkan serta rapikan kembali semuannya.

c. Teknik dan Cara fungsi vena yang tepat
Menurut (Mitheny, 1999) tindakan fungsi vena dengan cara fiksasi pembuluh darah vena dengan menempatkan ibu jari di atas vena serta meregangkan kulit berlawanan dengan arah insersi 5‑7 cm, dari arah distal ke tempat pungsi vena.
1) Insersi bevel (bagian ujung jarum yang miring) dengan membentuk sudut 20‑300, searah dengan aliran balik darah vena distal terhadap tempat pungsi vena dengan sebenarnya.
2) Jarum kupu-kupu: tempatkan jarum dengan membentuk sudut 20‑300dengan bevel di bagian atas, sekitar 1 cm dari arah distal ke tempat fungsi vena.
3) Khusus pada lansia sudut insersi yang dapat digunakan membentuk sudut 5‑150 akan lebih bermanfaat karena vena lansia lebih superfisial dan untuk mencegah bergesernya vena pada saat insersi.

B. Konsep Dasar Plebitis

Pengertian

Plebitis adalah suatu inflamasi vena yang terjadi akibat tidak berhasilnya penusukkan vena, kontaminasi alat intravena dan penggunaan cairan yang hipertonik yang tidak adekuat, yang secara kimiawi dapat mengiritasi vena. (Josephson dalam Handoyo, 1999). Menurut (http://www.surya, 007), plebitis merupakan peradangan pada pembuluh darah vena. Plebitis adalah salah satu infeksi nasokomial (http://www.akperoepraoen, 2007).
Plebitis adalah peradangan pembuluh darah vena yang, disebabkan oleh kateter atau iritasi kimiawi zat adiktif dan obat‑obatan yang diberikan secara intravena.

Penyebab

Faktor‑faktor yang berkontribusi terhadap kejadian plebitis menurut Handoyo dalam Oishi (2001) adalah
a. Tipe bahan selang
Ada beberapa jenis selang infus yang sering digunakan, dimana bahan selang tersebut sebagian besar terbuat dari plastik yang berlapis fiber sehingga lebih lentur, elastis dan tidak mudah lecet.
b. Lamanya pemasangan
Pemberian therapi intravena diberikan tidak dalam waktu lama, akan tetapi selalu dijaga agar tetap steril lebih kurang 24 sampai dengan 48 jam. Apabila terjadi kemacetan pada daerah selang atau terjadi hematoma maka penggunaan dihentikan sementara dan dipindahkan ke tempat atau daerah yang lain.

c. Tempat insersi
Terdapat insersi atau daerah penusukan jarum tergantung oleh dimana letak pembuluh darah vena yang besar dan lurus diantaranya telapak tangan atas, lengan atas, telapak kaki atas serta daerah prontal khususnya pada bayi.
d. Jenis penutup (dressing)
Penutup (dressing) daerah penusukan jarum biasanya ditutup dengan kassa stril yang telah dikompres dengan cairan desinfektan. Jenis desinfektan yang diberikan sebaiknya tidak dalam konsentrasi yang terlalu tinggi akan tetapi konsentrasi sedang yang tidak mudah mengiritasi kulit seperti iodine 1%.
e. Cairan intravena. yang digunakan.
Jenis cairan yang digunakan tergantung pada keperluan dan diagnosa pasien apakah harus menggunakan jenis cairan isotonik, hipotonik ataupun hipertonik. Suatu larutan bersifat isotonik jika osmolaritasnya mendekati osmolaritas plasma
f. Kondisi pasien.
Keadaan umum pasien sangat mempengaruhi dalam pemberian therapy intravena. Pada pasien yang sadar akan lebih mudah diberikan dibandingkan dengan kondisi pasien yang tidak sadar ataupun mengalami kelemahan.
g. Tehnik insersi kateter
Kepatenan dan ketepatan dalam pemasangan slang therapi intravena berdasarkan protap yang telah ditentukan.
h. Ukuran kateter
Jenis dan, ukuran kateter yang lebih dikenal dengan (aboccath) disesuaikan dengan nomer. Yang sering digunakan pada orang dewasa ukuran. kateter 16 ‑ 20, remaja 22 ‑ 24, sedangkan pada bayi biasanya menggunakan jarum wings atau jarum kupu‑kupu. Semakin besar nomer maka semakin besar ukuran jarum kateter.
Selanjutnya menurut Alexius (2006) beberapa faktor resiko terjadinya plebitis
a. Umur
Semakin bertambah usia, kemampuan sel akan menurun
b. Jenis kelamin
Lebih banyak wanita, karena dipengaruhi kekuatan otot, kelenturan dan kekenyalan lutut, serta jaringan adiposa subcutis berkurang.
c. Jenis cairan yang digunakan dan kecepatan tetesan infus
Lebih tinggi disebabkan osmolaritas dan sifat biokimianya akan menarik kompartemen intraseivier ke ekstraseiver sehingga sel‑sel mengkerut dan mengakibatkan kelebihan cairan dan homeostasis tubuh menurun.

d. Letak vena
Vena metakarpai letaknya lebih dekat dengan persendian dan mudah untuk digerakkan sehingga terjadi gesekan.

Klasifikasi

Menurut Campell dalam Handoyo (1999) plebitis dapat diklasifikasikan dalam 3 tipe :
a. Bakterial
Disebabkan oleh bakteri
b. Kimiawi
Disebabkan oleh bahan‑bahan kimia
c. Mekanikal
Disebabkan oleh banyaknya pergerakan

Kriteria/Tanda Minis

Dikatakan plebitis jika ditemukan kriteria :
Tanda‑tanda klinis tersebut mulai timbul < 3 x 24 jam setelah 8 jam pemasangan infus (Bouwhuizen, 2004). Tanda‑tanda klinis plebitis yaitu terdapatnya pembengkakkan, kemerahan, dan nyeri sepanjang vena (Klikharry, 2007). Sumber lain (http://www.surya, 2007) menyatakan tanda yang dapat ditemukan yaitu terdapatnya pembengkakan, panas tubuh yang cukup tinggi (>380C), sedangkan menurut Bouwhuizen (2004) tanda klinis plebitis adalah daerah penusukan bengkak, kemerahan, panas, nyeri pada kulit sekitar tempat kateter Intravena terpasang disertai dengan demam dan pus yang keluar dari tempat tusukan.

Masalah Plebitis

a. Akibat plebitis bagi penderita
Akibat dari plebitis akan memperlambat proses penyembuhan pasien terhadap penyakit yang di derita pasien.
b. Akibat plebitis bagi rumah sakit
Menyebabkan beban tambahan bagi rumah sakit, baik biaya maupun tugas yang harus dikerjakan oleh petugas rumah sakit, penambahan pemeriksaan diagnostik, penggunaan antibiotik akan menimbulkan kemungkinan terjadinya skrain‑skrain yang resisten terhadap antibiotik.
c. Akibat plebitis bagi masyarakat
Bertambah panjangnya masa rawat penderita, penderita pulang masih menjadi pembawa kuman selama beberapa bulan, carier dapat menularkan kuman pada keluarga maupun masyarakat sekitarnya.

Pencegahan dan strategi pengendalian plebitis menurut (Schaffer, 1996)

Resiko plebitis dapat dicegah/dikurangi dengan strategi :
a. Saat melakukan tindakan pemasangan therapi intravena harus sesuai dengan prosedur‑prosedur intravena
b. Penggunaan alat yang steril
c. Melakukan perawatan therapi intravena
Menurut (Bouwhuizen, 2004) resiko plebitis juga dapat dikurangi dengan :
a. Mengikuti mekanisme praktek pencegahan infeksi pada pemasangan therapi intravena
b. Penggunaan alat yang steril

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian untuk mencari gambaran tentang situasi bagaimana yang menyebabkan timbulnya peristiwa tertentu dengan menggunakan rancangan Retrospektif. Untuk melihat kembali proses pelaksanaan variable independent pada waktu yang lampau.

B. Kerangka Konsep
Variabel Independent Variabel Dependent


C. Definisi Operasional
Tabel 2.1
Definisi Operasional Variabel Dependent dan Independent
Variabel

Definisi Operasional

Cara Ukur

Alat Ukur

Skala Ukur

Hasil Ukur
§ Ukuran Jarum





§ Prosedur Tindakan



§ Plebitis
D.

Berdasarkan nomer yang tertera pada label jarum semakin besar nomoer semakin kecil ukuran jarum


Standar tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam melaksanakan pemasangan infus

Suatu kejadian infeksi yang terjadi melalui penusukan jarum infus /kateter vena kedalam pembulh darah vena yang ditandai dengan gejala : kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluar pus dari tempat penusukan jarum.


Observasi






Observasi




Observasi

Cheklist






Cheklist




Cheklist

Nominal






Ordinal




Ordinal

Kateter vena Wings
Kateter vena no 24
Kateter vena no 22
Kateter vena no 20
Kateter vena no 18
Kateter vena no 16

0 : Tidak sesuai protap
1 : Sesuai protap



0 ; Plebitis
1 : Tidak Plebitis

D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau yang diteliti (Notoatmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang mengalami geja phlebitis di ruang rawat inap Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dari bulan Juli sampai dengan Agustus 2009.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang mengalami gejala plebitis di ruang rawat inap Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dengan menggunkan teknik accidental sampling. Didapatkan jumlah pasien sebanyak 18 orang.

E. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 29 Agustus s/d 7 September 2009, bertempat di Ruang Melati (C2) RSUD Dr.M. Yunus Bengkulu.
F. Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu melalui observasi untuk melihat Gambaran Penggunaan Jarum dan Prosedur Tindakan Pemasangan Infus Pada Pasien Yang Mengalami Plebitis . Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah check list.

G. Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Pengolahan Data

a. Editing
Merupakan tahap kegiatan pemilihan data yang telah terkumpul
b. Coding Data
Mengaplikasikan data-data yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas dan sederhana dan menggunakan kode-kode.
c. Tabulasi
Setelah dilakukan koding maka tebulasi data dengan memberikan skore pada masing-masing sub variable.
d. Penyajian Data
Setelah dianalisis, data akan disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi dan narasi kemudian diinterprestasikan.

Analisa Data dan Penyajian Data

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan menggunakan teknik non-statistik, melainkan dengan analisis deskriptif. Kemudian di distribusi frekuensi dengan menggunakan rumus :
F
P =
N
Dimana :
F: Jumlah frekuensi dari masing-masing varabel
N : Jumlah dari seluruh populasi
P : Persentasi yang dicari

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Jalannya Penelitian
Jalannya penelitian ini dibagi dlam dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan penelitian. Pada tahap persiapan dimulai dari survey pengumpulan data awal yaitu tepatnya pada tanggal 25 Juli 2009. Setelah data awal diadapatkan maka peneliti mulai merumuskan masalah penelitian yang akan diteliti. Sebelum melakukan survey data awal, peneliti memasukan surat pengantar untuk survey pengumpulan data awal dari institusi pendidikan, untuk mengumpulkan data penelitian dilakukan dengan cara observasi langsung terhadap respnden dengan menggunakan format pengumpulan data yang dilakukan secara check-list. Penelitian berlangsung selama 2 minggu mulai dari tanggal 29 Agustus s/d 7 Sepetember 2009 dengan jumlah responden 18 orang pasien yang terpasang infuse mengalami gejala phlebitis di ruang rawat inap Melati RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu tahun 2009 dengan rincian 2 orang pasien anak usia < 1 tahun, 3 orang pasien anak balita, 4 orang pasien remaja, 6 orang pasien dewasa dan 3 orang pasien lansia. Dalam melakukan penelitian ini penulis menghadapi berbagai hambatan yaitu pasien yang harus dilakukan pemasangan infuse harus menunggu intrusksi terlebih dahulu dari hasil visite dokter. B. Hasil Penelitian Dari hasil analisa data deskripsi data umum pasien yang terpasang infuse dirawat diruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu yang menjadi responden penelitian untuk mengetahui gambaran penggunaan jarum dan prosedur tindakan pemasangan infuse pada pasien yang mengalami phlebitis. Hasil penelitian tersebut diuraikan sebagai berikut : 1. Ukuran Jarum Infus Tabel 4.2.1 Distribusi Frekuensi Penggunaan Ukuran Jarum Infus Pada Pasien Yang Mengalami Plebitis Di Ruang Melati RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu tahun 2009 No Ukuran Jarum Infus N % 1 2 3 4 5 6 Kateter vena Wings Kateter vena no 26 Kateter vena no 24 Kateter vena no 22 Kateter vena no 20 Kateter vena no 18 Kateter vena no 16 2 3 3 5 3 2 11,1 16,6 16,6 27,7 16,6 11,1 Jumlah 18 100 Pada tabel 4.2.1 terlihat bahwa sebagian besar pasien yang mengalami phlebitis terpasang ukuran jarum kateter vena sebagian besar (44,5%) dengan ukuran jarum 20 -22, (33,3%) ukuran jarum 24 – 26, dan sebagian kecil (11,1%) menggunakan ukuran jarum 16 – 18 serta jenis kupu-kupu/wings. 2. Prosedur Pemasangan Infus Tabel 4.2.1 Distribusi Frekuensi Prosedur Pemasangan Infus Pada Pasien Yang Mengalami Plebitis Di Ruang Melati RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu tahun 2009 No Prosedur Pemasangan Infus N % 1 2 Sesuai Protab Tidak Sesuai Protab 6 12 33,3 66,7 Jumlah 18 100 Pada tabel 4.2.1 terlihat bahwa sebagian besar pasien yang mengalami phlebitis yang dilakukan tindakan pemasangan infus lebih dari sebagian besar dengan kategori tidak sesuai dengan protab (66,7%) dan sebagian kecil prosedur pemasangan infuse dengan kategori sesuai dengan protab (33,3%) C. Pembahasan 1. Ukuran Jarum Infus Berdasarkan hasil analisa data diperoleh bahwa sebagian besar (44,5%) pasien yang mendapat therapy intravena/infuse mengunakan jarum intravena ukuran 20 – 22 sedangakan 4 orang pasien terdiri dari 2 orang pasien anak umur < 1 tahun dan 2 orang pasien lansia terpaksa menggunakan ukuran jarum 24 – 26 dengan alasan persediaan yang ada di apotek sudah habis. Untuk mengurangi penggunaan jarum infuse yang tidak sesuai dengan usia pasien salah satunya dengan memberikan kesempatan pada keluarga untuk mempersiapkan cadangan alat atau jarum infuse minimal 2 set, dengan harapan apabila terjadi kerusakan pada jarum saat pemasangan maupun terjadinya pembengkakan setelah pemasangan lebih dari 48 jam. Menurut Oishi dalam Handaoyo (2001) bahwa jenis dan ukuran jarum kateter yang lebih dikenal dengan (Abbocath) disesuaikan dengan nomer. Yang sering digunakan pada orang dewasa ukuran kateter 16 – 20 , remaja 22 – 24, sedangkan bayi bisanya menggunakan jarum wings atau jarum kupu-kupu. Semakin basar nomer maka semakin besar ukuran jarum kateter vena. Oleh karnanya dalam pemberian terapi infus harus lebih teliti sebelum melakukan tindakan dengan kata lain mengobservasi terlebih dahulu lokasi tempat insersi yang cocok, umur pasien, tempat pembuluh darah vena kemudian barulah dapat ditentukan ukuran jarum kateter mana yang harus digunakan. Bila ditemukan pembuluh darah vena yang lurus akan tetapi pendek sebaiknya disesuaikan dengan ukuran jarumnya walaupun tidak sesuai dengan umur pasien. Untuk pasien yang lebih tua sebaiknya menggunakan ukuran jarum yang lebih kecil karena pada orang tua pembuluh darah vena cepat terjadi rupture vena selain itu juga pada orang tua vena sering terjadinya pergeseran pembuluh darah vena terutama pada saat pemasangan pembuluh darah vena sering lari sehingga menyebabkan penusukan yang berulang. 2. Prosedur Tindakan Pemasangan Infus Berdasarkan hasil penelitian terhadap prosedur pemasangan infuse di dapat lebih dari sebagian besar (66,7%) prosedur tindakan dalam kategori tidak sesuai dengan protab. Dari beberapa uaraian prosedur tindakan yang sering terlupakan oleh perawat dimulai dari informed concent antara lain menjelaskan prosedur tindakan, menjelaskan keuntungan dan kerugian serta menjelaskan resiko yang mungkin terjadi, seharusnya uraian informed concent tersebut semuanya diperoleh dengan lengkap agar pasien dan keluarga lebih mengerti dan mau menerima prosedur tindakan tersebut dengan baik. Dari kategori persiapan alat sebagian besar perawat yang melakukan protab pemasangan infus beberapa alat yang jarang digunakan antara lain bak instrument yang berisi sarung tangan steril, perlak dan pengalas, bengkok, spalak, jam tangan untuk mengatur jumlah tetesan infus, tourniquet serta alat tulis yang merupakan beberapa alat vital yang mendukung dalam pemasangan infus. Hal ini dikarnakan kurangnya kesadaran dari perawat dalam menyiapkan alat sesuai dengan protab yang ada dengan alasan terlalu rumit serta butuh waktu yang lama sehingga protab persiapan alat cukup dilakukan dengan sederhana saja. Proses pelaksanaan tindakan sebagian besar cukup baik, akan tetapi ada sebagian kecilsering terlewatkan oleh perawat yang kelihatan spele akan tetapi penting adalah mencatat waktu pemasangan, jenis cairan dan jumlah tetesan. Mencatat jumlah tetrsan dan jenis cairan yang digunakan merupakan suatu laporan yang nantinya dapat menjadi pedoman bagi petugas perawatan slanjutnya. Misalnya prosedur pemasangan dilakukan pada pagi hari sedangkan observasi dilakukan oleh perawat yang bertugas pada sore hari dan selanjutnya didelegasikan untuk perawat yang bertugas pada malam harinya begitupun seterusnya. Sehingga infus yang terpasang oleh pasien dapat terpantau dengan baik. Menurut Merheny dalam Kartono, 2001 tindakan pemasangan infus sebaiknya dilakukan dengan mengikuti protab yang jelas agar resiko komplikasi yang terjadi akibat pemasangan infus dapat dikurangi. Oleh karena itu diharapkan kepada petugas perawatan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan pemasangan infus dan bekerja sesuai dengan protab yang telah ditentukan. Persentase tertinggi dari beberapa factor penyebab terjadinya phlebitis antara lain dari tipe bahan selang yang digunakan tidak elastis dan lamanya penggunaan infus >72 jam, tempat insersi vena dilakukan pada pembuluh darah vena biasa dan pelaksanaan tindakan pemasangan therapy intravena tidak sesuai dengan protab yang telah ditentukan.
Dari berbagai factor penyebab terjadinya phlebitis terhadap pemasangan infuse atara factor satu dengan factor yang lainnya sangat berkaitan erat. Tingginya persentase jenis bahan selang tidak elastis yang digunakan pada pasien tentu akan berdampak terhadap lamannya penggunaan infus semakin lentur dan elastisnya bahan selang maka dapat lebih lama digunakan walaupun >dari 72 jam. Tempat insersi vena yang besar dan lurus akan berdampak terhadap jenis kateter jarum yang digunakan, semakin besar dan lurus pembuluh darah vena maka jenis kateter yang terpasang juga akan sesuai sehingga dapat menghindari terjadinya lipatan pembungkus jarum kateter yang tertanam didalam vena yang dapat menyebabkan terjadinya hematoma pembuluh darah vena.
Dari hasil penelitian juga ditemukan masih kurangnya kepatuhan perawat terhadap protab pemasangan infus yang semestinya protab adalah hal yang terpenting dan sangat berpengaruh terhadap terjadinya kejadian phlebitis. Bila protab yang digunakan sesuai dengan standar maka kemungkinan besar komplikasi pemasangan infus dapat dihindari. Dengan demikian untuk menghindari beberapa penyebab terjadinya phlebitis akibat pemasangan infus maka peran perawat sangatlah penting terutama dalam memilih bahan selang sebaiknya terlebih dahulu ditawarkan dengan pasien dan keluarga jenis bahan apa yang akan digunakan. Sebelum melakukan insersi vena terlebih dahulu carilah pembuluh darah vena yang besar dan lurus. Ukuran kateter hendaklah disesuaikan dengan umur pasien dan lamannya infus perlu observasi yang ketat dari petugas.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Sebagian besar (44,5%) ukuran jarum cateter vena yang terpasang pada pasien yang mengalami phlebitis berukuran 20 – 22.
2. Prosedur pemasangan infus lebih dari sebagian besar (66,7%) dalam kategori tidak sesuai dengan protab
B. Saran

Bagi tempat penelitian RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

Hendaknya bagi perawat untuk selalu melaksankan pemasangan infus dengan menggunakan protab yang terlah ditentukan oleh pihak RS dan selalu berperan aktif dalam mengontrol pemasangan infus minimal 2 kali dalam satu jam perawatan dan pada saat penggantian cairan infus.

Bagi Institusi Pendidikan.

Agar kiranya dapat memperbanyak sumber bacaan tentang phlebitis sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa.

Bagi Peneliti Lain

Diharapkan pada peneliti lain agar dapat melanjutkan penelitian ini menjadi lebih spesifik dengan teknik yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA

Alexius, R. 2006. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Plebitis di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Skripsi, Surakarta.
Arikunto, S. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta; Rineka Cipta
Departemen Kesehatan RI, 2002. Sehat 2010. Jakarta.
Handoyo, dkk, 2006. Hubungan Pengetahuan Tentang Perawatan Therapi Intravena Dengan Kejadian Plebitis di Ruang Bangsal Bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Jurnal Keperawatan, Universitas Jendral Sudirman.
Hastono, 2004. Biostatistik. Jakarta.
Hidayat, A. Azis Alimun, 2002. Riset Keperawatan dan Teknis Penulisan Ilmiah. Jakarta, Salemba Medika.
Kartono, 2004. Sakir Harus Diinfus. Koran Kesehatan Republika.
Klikharry, 2007. Faktor Alat (online) diakses dari http://www.surya.co.id.
M. Bouhuizen, 1999. Ilmu Keperawatan. Jakarta. EGC.
Notoatmodjo, S. 2000. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta,Rineka Cipta.
Perry and Potter, 1999. Keterampilan dan Prosedur Dasar. Jakrta. EGC.
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, 2000. Prosedur Pemasangan Intravena. Bengkulu.
Schaffer, Susan dkk. 2000. Pencegahan Infeksi dan Praktik Yang Aman. Jakarta. EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar