Sunday, September 25, 2011

ASKEP KELAINAN PADA MATA

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf. Struktur mata manusia berfungsi utama untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua komponen–komponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna gelap untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna untuk mengumpulkan cahaya yang akan difokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada sel fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang impuls–impuls syaraf ini dan menjalarkannya ke otak. Kelainan-kalainan pada mata dapat merisak penglihatan ketajaman pada mata. Kelainan mata meliputi: konjungtivitis, trakoma, glaucoma, katarak, ablasio retina, retinoblastoma dan adanya trauma, benda asing pada mata serta kelainan refraksi pada mata. 2. TUJUAN a. Tujuan Umum 1. Dengan adanya makalah yang kami susun ini, mahasiswa kesehatan akan lebih mengetahui kelainan-kelainan pada mata. 2. Mengetahui penyebab serta Asuhan keperawatan pada pasien dengan kelainan-kelainan pada Mata. b. Tujuan Khusus. 1. Mengetahui Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien Ablasio retina. 2. Mengetahui Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien Retino bastoma. 3. Mengetahui Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien Trauma tumpul. 4. Mengetahui Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien Cedera Tajam. c. Rumusan Masalah. 1. Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien dengan Ablasio Retina? 2. Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien dengan RetinoBlastoma? 3. Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien dengan Trauma Tumpul? 4. Bagaimana Asuhan keperawatan pada klien dengan Cedera tajam? BAB II TINJAUAN TEORI A. ABSASIO RETINA 1. Definisi. Ablasio Retina adalah pelepasan retina dari lapisan epitelium neurosensoris retina dan lapisan epitelia pigmen retina (Donna D. Ignativicius, 1991). Ablatio Retina juga diartikan sebagai terpisahnya khoroid di daerah posterior mata yang disebabkan oleh lubang pada retina, sehingga mengakibatkan kebocoran cairan, sehingga antara koroid dan retina kekurangan cairan (Barbara L. Christensen 1991). 2. Tanda dan Gejala. a. Fotopsia, munculnya kilatan cahaya yang sangat terang di lapang pandang. b. Muncul bintik-bintik hitam yang beterbangan di lapang pandang (floaters) c. Muncul tirai hitam di lapang pandang d. Tidak ditemukan adanya rasa nyeri atau nyeri kepala 3. Patofisiologi Ablatio Retina Pada Ablatio Retina cairan dari vitreus bisa masuk ke ruang sub retina dan bercampur dengan cairan sub retina. Ablatio Retina dapat diklasifikasikan secara alamiah menurut cara terbentuknya: a) Ablatio Rhegmatogen terjadi setelah terbentuknya tulang atau robekan dalam retina yang menembus sampai badan mata masuk ke ruang sub retina, apabila cairan terkumpul sudah cukup banyak dapat menyebabkan retina terlepas. b) Ablatio oleh karena tarikan, terjadi saat retina mendorong ke luar dari lapisan epitel oleh ikatan atau sambungan jaringan fibrosa dalam badan kaca. c) Ablatio eksudatif, terjadi karena penumpukan cairan dalam ruang retina akibat proses peradangan, gabungan dari penyakit sistemik atau oleh tumor intraocular, jika cairan tetap berkumpul, lapisan sensoris akan terlepas dari lapisan epitel pigmen. 4. Pathway Nursing 5. Pemeriksaan Penunjang pada Ablatio Retina a. Pemeriksaan visus b. Ophtalmoskop indirek c. USG mata d. Campur Visi 6. Manajemen Terapi Ablatio Retina Untuk memperbaiki Ablatio Retina dilakukan prosedur operasi scleral bucking yaitu pengikatan kembali retina yang lepas. a) Pengelolaan penderita sebelum operasi  Mengatasi kecemasan  Membatasi aktivitas  Penutup mata harus selalu dipakai untuk mencegah atau membatasi pergerakan bola mata  Pengobatan dengan obat tetes mata jenis midriaticum untuk mencegah akomodasi dan kontriksi. b) Pengelolaan penderita setelah operasi  Istirahatkan pasien (bad rest total) minimal dalam 24 jam pertama.  Ukur vital sign tiap jam dalam 24 jam pertama.  Evaluasi penutup mata  Bantu semua kebutuhan ADL  Perawatan dan pengobatan sesuai program 7. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Ablatio Retina 1) Pengkajian a. Data Subyektif  Pasien mengeluh tiba-tiba melihat kilatan cahaya terang dan bintik-bintik hitam yang beterbangan di ruang pandang.  Pasien mengeluh melihat tirai yang menutupi lapang pandang.  Pasien menyatkan takut dan cemas karena kehilangan fungsi penglihatan secara tiba-tiba. b. Data Obyektif  Dengan pemeriksaan ophtalmoskop indirek terlihat gambaran gelembung abu-abu atau lipatan-lipatan pada retina yang bergetar dan bergerak  Aktifitas pasien terbatas  Mata pasien tertutup dengan gaas  Pasien mendapat obat tetes mata midryatil  Wajah pasien tampak tegang dan cemas  Pada pemeriksaan visus : OD 1/4 Os 2/60 ANALISA DATA NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM 1 DS : 1. Pasien mengeluh melihat tirai yang menutupi lapang pandang 2. Pasien sering mengeluh adanya titik-titik hitam (floater) 3. Pasien mengatakan jika dirinya memiliki riwayat kesehatan rabun dekat 4 dioptri DO: 1. Miopi (rabun jauh) 2. Adanya robekan pada retina (pemeriksaan fundudkopi) Lapisan retina robek Cahaya yang masuk tidak bisa ditangkap retina Hilangnya lapang pandang Gg. Penerimaan rangsangan visual Konservasi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat diintepretasikan otak Hilangnya penglihatan Gg. Penerimaan rangsangan visual DS : 1. Pasien mengeluh tiba-tiba melihat kilatan cahaya (Fotopsia) 2. Pasien mengatakan pernah memiliki riwayat kesehatan diabetic neuropati 3. Pasien mengeluh sering melihat titik-titik hitam (Floater) DO : 1. Diabetic retinopathy 2. Didapatkan jaringan fibrous pada vitreus. 3. Robekan retina dan sel-sel darah merah mengapung di daerah viterus (pemerikasaan funduskopi) Lapisan retina robek dan kapiler darah terputus Gg. Penerimaan rangsangan visual Konservasi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat diintepretasikan otak Hilangnya penglihatan Perubahan sensori preseptual Perubahan sensori preseptual 2) Diagnosa Keperawatan a. Perubahan sensori perseptual(visual) yang berhubungan dengan kerusakan kemampuan memproses rangsangan visual. b. Defisit perubahan diri yang berhubungan dengan pembatasan aktivitas. 3) Intervensi NO DX Tujuan Intervensi Rasional 1 Mampu mempertahankan kemampuan untuk menerima rangsangan visual dan tidak mengalami kehilangan penglihatan lebih lanjut. Kriteria hasil : - Klien mengatakan tetap dapat melihat walaupun belum sempurna. 1. Anjurkan pasien untuk bedrest dengan satu atau kedua mata ditutup. 2. Atur kepala agar rongga retina dalam posisi tidak menggantung. 3. Kolaborasi untuk pembedahan. 1. untuk mempertahankan mata dalam keadaan istirahat untuk mencegah robekan lebih lanjut. 2. Gravitasi dapat membantu mencegah lapisan retina pertama lepas dari lapisan kedua. 2 Mampu melakukan perubahan diri dalam hal membatasi aktivitasnya untuk mencegah terjadinya resiko cedera lebih lanjut. Kriteria Hasil : - Klien istrahat dengan teratur. - Klien merasa lebih membaik dari sebelumnya 1. Beritahu klien bahwa aktvitasnya sementara di batasi. 2. Bantu kebutuhan sehari hari klien. 3. Letakkan call bell pada tempat yang mudah di jangkau. 1. Mencegah robekan lebih lanjut. 2. Mengurangi resiko cedera lebih lanjut. 3. Memudahkan pasien untuk meminta pertolongan B. RETINOBLASTOMA 1. Pengertian Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel kerucut atau batang) atau sel glia yang bersifat ganas (Ilyas S. dkk, 1981). 2. Insiden a. Kelainan ini umumnya bersifat kongenital walaupun dapat pula dijumpai pada usia yang lebih lanjut (40 tahun). b. Diturunkan secara dominan autosom (bila menegani kedua mata), dan bersifat mutasi somatik (bila mengenai satu mata). c. Ditemukan 1 diantara 30.000 kelahiran. d. Perbandingan laki-laki dan perempuan insidennya sama e. Tidak terdapat predileksi ras 3. Patofisiologi Secara histopatologik retinoblastoma terdiri atas sel-sel kecil berbentuk bulat dengan nukleus besar yang hiperkromatik dan sitoplasma yang sedikit. Gambaran mitosis mungkin lebih banyak ataupun sedikit. Kadang-kadang ditemukan daerah nekrosis dan deposit kalsium. Gambaran khas mata retinoblastoma adalah adanya rosette yaitu gambaran yang terdiri atas susunan sel kuboid yang mengelilingi suatu lumen dan nucleus yang terletak di daerah basal (Ilyas S. dkk, 1981. Dampak psikologis : 1. Ansietas 2. Rendah diri 3. Risiko inefektif penatalaksanaan regimen terapi 4. Hospitalisasi Dampak fisik 1. Perubahan persepsi sensori (melihat) 2. Resiko cedera 3. Perubahan gambaran tubuh 4. Nyeri pada mata 4.Penatalaksanaan a. Penyinaran supervoltage (membunnuh sisa-sisa tumor) b. Penyinaran yang dikombinasikan dengan kemoterapi c. Koagulasi ringan d. Kemoterapi (metastase ke jaringan tubuh lainnya) Preoperasi :: 1. Ansietas 2. Takut Postoperasi : 1. Perubahan persepsi sensori (melihat) 2. Resiko cedera 3. Perubahan gambaran tubuh 4. Nyeri pada mata 5. Perubahan interaksi sosial 6. Berduka e. Pembedahan (enukleasi ialah bedah pengangkatan bola mata). Setalh bola mata dikeluarkan, otot mata dijahit pada bola plastik yang dimasukkan dalam rongga mata, dan alat penyesuai sementara dimasukkan untuk mempertahankan bentuk alami rongga mata. Antara 2 dan 6 minggu setelah operasi, prostesisi mata daapt dibuat untuk klien untuk dipasang. Eksentrasi orbita ( eksistensi ke jaringan orbita) dengan mengangkat. Gambaran klinis (Ilyas S. dkk, 1981) a. Gejala subyektif Biasanya sukar ditemukan karena anak tidak mengeluh. Kelainan ini dapat disurigai bila ditemukan adanya leukokoria (Refleks putih pada pupil dan dapat disebabkan karena kelainan pada retina, badan kaca, dan lensa), strabismus, glaukoma (suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap ditandai oleh peninggian tekanan intraokluler, pengguangan dan degenerasi papil saraf optik serta defek lapang pandangan yang khas), mata sering merah atau penglihatan yang menurun pada anak-anak. b. Gejala obyektif  Tampak adanya suatu massa yang menonjol di dalam badan kaca  Massa tumor dapat menonjol di atas retina ke dalam badan kaca pada retinoblastoma tipe endofitik atau terletak di bawah retina terdorong ke dalam badan kaca seperti pada tipe eksofitik.  Masa tumor tampak sebagai lesi yang menonjol berbentuk bulat, berwarna merah jambu, dapat ditemukan satu atau banyak pada satu mata atau kedua mata.  Sering terdapat neovaskularisasi di permukaan tumor.  Mungkin juga ditemukan adanya mikroneurisma atau teleangiektasi.  Pada pemeriksaan funduskopi pada lesi ini tidak ditemukan tanda peradangan seperti edema retina, kekeruhan badan kaca dan lain-lain. 5.Pengobatan: c. Penyinaran supervoltage d. Penyinaran yang dikombinasikan dengan kemoterapi e. Koagulasi ringan f. Kemoterapi g. Pembedahan. 6.Komplikasi Adanya metatase ke :  Lamina kribosa, saraf optik yang infiltrasi ke vaginal scheat sampai ke subarachnoid dan intrakranial menjadi tumor otak.  Jaringan koroid (metastase melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh)  Pembuluh emisari/tumor menjalar ke posterior orbita. 6.Prognosa a. Tumor ditemukan dalam keadaan dini, unilateral dan diaobati secepat mungkin, 90% hidup. b. Buruk, jika menjlar ke saraf optik dan sistemik. Asuhan Keperawatan Retinoblastoma A. PENGKAJIAN 1. Biodata 2. Riwayat Penyakit sekarang Tidak ada keluhan spesifik kecuali visusu menurun, kemungkinan adanya nyeri. 3. Riwayat Riwayat Keluarga : Penyakit mata dalam keluarga, DM atau alergi. 4. penyakit dahulu : Penyebab timbulnya Retino Blastoma 5. Riwayat Psikososial dan Spiritual : Meliputi informasi dan tanggapan klien dan keluarganya tentang penyakit dan pengaruh sakitnya terhadap cara hidup, perasaan terhadap penyakit dan therapinya, 6. Pemeriksaan fisik :  Visus : Untuk melihat ketajaman penglihatan (menurun)  Fundus Okuli : Ditemukan adanya massa yang menonjol dari retina disertai pembuluh darah pada permukaan ataupun didalam massa tumor tersebut dan berbatas kabur  X Ray : Hampir 60 – 70 % penderita retinoblastoma menunjukkan kalsifikasi. Bila tumor mengadakan infiltrasi ke saraf optik foramen : Optikum melebar.  USG : Adanya massa intraokuler  LDH : Dengan membandingkan LDH aqous humor dan serum darah, bila ratsio lebih besar dari 1,5 dicurigai kemungkinan adanya retinoblastoma intaokuler (Normal ratsio Kurang dari 1) B.Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan proses penyakitnya (kompresi/dekstruksi jaringan saraf, inflamasi), ditandai dengan:  Keluhan nyeri  Aktivitas kurang (distraksi/perilaku berhati-hati)  Gelisah (respons autonomik)  Sering menangis  Keluhan sakit kepala  Ekspresi meringis 2. Gangguan persepsi sensorik penglihatan sehubungan dengan gangguan penerimaan sensori dari organ penerima, ditandai dengan:  Menurunnya ketajaman penglihatan  Mata juling (strabismus)  Mata merah  Bola mata membesar  Tekanan bola mata meningkat  Refleks pupil berwarna putih (leukokoria) 3. Gangguan rasa aman cemas, sehubungan dengan:  Perubahan status kesehatan  Adanya nyeri  Kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan Ditandai dengan:  Merasa takut  Gelisah  Sering menangis  Sering bertanya 4. Resiko tinggi cedera, sehubungan dengan keterbatasan lapang pandang yang ditandai dengan:  Menurunnya ketajaman penglihatan  Mata juling (strabismus)  Tekanan bola mata meningkat  Refleks pupil berwarna putih (leukokoria) 5. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit anaknya yang ditandai dengan:  Tak akurat mengikuti instruksi  Keluarga nampak murung  Keluarga nampak gelisah  Pertanyaan/pernyataan keluarga salah konsepsi Tujuan 1. Nyeri teratasi dengan kriteria: o Menunjukkan/melaporkan hilangnya nyeri maksimal. o Menunjukkan tindakan santai,mampu berpartisipasi dalam ktivitas/tidur/istirahat dengan maksimal. o Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi untuk situasi individu. 2. Mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut, dengan kriteria: o Berpartisipasi dalam program pengobatan o Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. o Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan. 3. Kecemasan teratasi dengan kriteria: o Tampak rileks dan melaporkan cemas menurun sampai tingkat dapat teratasi. o Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah o Menggunakan sumber secara efektif. 4. Resiko cedera berkurang, dengan kriteria: o Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk melindungi diri cedera. o Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan. o Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera. 5. Keluarga memahami tentang penyakit anaknya dengan kriteria: o Mengikuti instruksi dengan prosedur yang benar dan menjelaskan alasan tindakan. o Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan. o Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit. C. Rencana Keperawatan (Intervensi) 1. Gangguan rasa nyaman nyeri Tindakan/Intervensi Rasional Mandiri: - Tentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas (skala 0 – 10) dan tindakan penghilangan yang digunakan. - Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi. Catatan: pengalaman nyeri adalah individual yang digabungkan dengan baik respon fisik dan emosional. - Evaluasi/sadari terapi tertentu. Misalnya pembedahan, radiasi, kemoterapi, bioterapi, ajarkan pasien/orang terdekat apa yang diharapkan. - Ketidaknyamanan rentang luas adalah umum (misalnya: nyeri insisi, sakit kepala) tergantung pada prosedur/agen yang digunakan. - Berikan tindakan kenyamanan dasar (misalnya: reposisi) dan aktivitas hiburan (misalnya: mudik, televisi). - Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian - Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri (misalnya: teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imaginasi), tertawa, musik, dan sentuhan terapeutik. - Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol. - Evaluasi penglihatan nyeri/kontrol nilai aturan pengobatan bila perlu - Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS Kolaborasi: - Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter. - Rencana terorganisasi mengembangkan kesempatan untuk kontrol nyeri. Terutama - Berikan analgesik sesuai indikasi (misalnya: morfin, metadon) dengan nyeri kronis, pasien/orang terdekat harus aktif menjadi partisipan dalam manajemen nyeri di rumah. - Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respon individual berbeda. Saat perubahan penyakit/pengobatan terjadi, penilaian dosis dan pemberian akan diperlukan. 2. Gangguan persepsi sensoris penglihatan Tindakan/Intervensi Rasional Mandiri: - Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat. - Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif. Bila bilateral, tiap mata dapat berlanjut pada laju yang berbeda. - Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya. - Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, dan menurunkan cemas. - Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan - Memungkinkan pasien melihat objek lebih mudah dan memudahkan panggilan untuk pertolongan bila diperlukan. - Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/kemungkinan kehilangan penglihatan - Sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi kemungkinan atau mengalami pengalaman kehilangan penglihatan sebagian atau total. Meskipun kehilangan penglihatan telah terjadi tak dapat diperbaiki, kehilangan lanjut dapat dicegah. - Lakukan tindakan untuk membantu pasien untuk menangani keterbatasan penglihatan, contoh, atur perabot/ mainan, perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam. - Menurunkan bahaya keamanan, sehubungan dengan perubahan lapang pandang/kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan. Kolaborasi: - Siapkan intervensi bedah sesuai indikasi: enuklasi - Pengangkatan bola mata, dilakukan apabila tumor sudah mencapai - Pelaksanaan krioterapi, fotokoagulasi laser, atau kombinasi sitostatik.seluruh vitreous dan visus nol, dilakukan untuk mencegah tumor bermetastasis lebih jauh. - Dilakukan apabila tumor masih intraokuler, untuk mencegah pertumbuhan tumor akan mempertahankan visus. 3. Gangguan rasa aman cemas Tindakan/Intervensi Rasional Mandiri: - Kaji tingkat ansietas, derajat pengalaman nyeri/timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini - Faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri dan potensial siklus ansietas. - Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan dengan keluarga bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan. - Menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan/harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk membuat pilihan informasi tentang pengobatan. - Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan - Memberikan kesempatan kepada pasien menerima situasi nyata, mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah. - Identifikasi sumber/orang yang menolong - Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam menghadapi masalah. 4. Resiko tinggi terhadap cedera Tindakan/Intervensi Rasional Mandiri: - Orientasikan pasien klien terhadap lingkungan, staf, dan orang lain yang ada di areanya. - Memberi peningkatan kenyamanan, memudahkan adaptasi terhadap lingkungannya dan mengetahui tempat untuk meminta bantuan pada saat membutuhkan. - Anjurkan keluarga memberikan mainan yang aman (tidak pecah), dan pertahankan pagar tempat tidur. - Menurunkan resiko memecahkan mainan dan jatuh dari tempat tidur - Arahkan semua alat mainan yang dibutuhkan klien pada tempat - Memfokuskan lapang pandang dan mencegah cedera. Kolaborasi: - Pemberian analgesik, misalnya: acetaminophen (tyenol), empirin dengan kodein. - Digunakan untuk mengatasi ketidaknyamanan, meningkatkan istirahat/mencegah gelisah. 5. Kurangnya pengetahuan keluarga Tindakan/Intervensi Rasional Mandiri: - Beri penjelasan tentang kondisi pasien, prognosis, dan pengobatannya. - Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerjasama dalam pemberian tindakan. - Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin. - Pengawasan periodik menurunkan resiko komplikasi serius. - Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya menghindari/mengurangi situasi pencetus stress. - Stress dapat menambah ketegangan pada mata dan memperburuk keadaannya. - Ajarkan cara mengatasi nyeri dengan teknik relaksasi, tertawa, musik, dan sentuhan terapeutik. - Dapat membantu mengurangi nyeri apabila nyeri pada klien timbul. C.TRUMA TUMPUL 1. Pengertian Hifema adalah darah dalam bilik mata depan sebagai akibat pecahnya pembuluh darah pada iris, akar iris dan badan silia. 2. Tanda dan Gejala  Mata merah  Rasa sakit  Mual dan muntah karena kenaikan Tekanan Intra Okuler (TIO).  Penglihatan kabur  Penurunan visus  Infeksi konjunctiva  Pada anak-anak sering terjadi somnolen 3. Patofisiologi Trauma tumpul yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada pembuluh darah iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan perdarahan dalam bilik mata depan. Iris bagian perifer merupakan bagian paling lemah. Suatu trauma yang mengenai mata akan menimbulkan kekuatan hidraulis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis, serta merobek lapisan otot spingter sehingga pupil menjadi ovoid dan non reaktif. Tenaga yang timbul dari suatu trauma diperkirakan akan terus ke dalam isi bola mata melalui sumbu anterior posterior sehingga menyebabkan kompresi ke posterior serta menegangkan bola mata ke lateral sesuai dengan garis ekuator. Hifema yang terjadi dalam beberapa hari akan berhenti, oleh karena adanya proses homeostatis. Darah dalam bilik mata depan akan diserap sehingga akan menjadi jernih kembali. 4. Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium (tes fungsi hati, prothombin, trombosit dan waktu perdarahan)  Pemeriksaan visus  Pemeriksaan lampu celah  Pemeriksaaan goneoskopi (untuk mencari pembuluh darah yang rusak dan resesif sudut). 5. Manajemen Terapi Sampai sekarang masih terdapat konsep yang berbeda tapi yang penting dalam penaganan hifema memberi pertolongan dan pengobatan secara cepat dan tepat sehingga dapat mencegah atau mengurangi komplikasi. Istirahat total selama 5 hari untuk melihat terjadinya hifema ulangan. Posisi berbaring 30-45° akan menyebabkan darah berkumpul di bawah dan akan menurunkan tekanan darah sistemik sehingga mengurangi resiko hifema ulangan. Pemberian tetes mata:  Xicloplegi (obat parasimpatolitik).  Medriatikum  Miotik lebih baik dihindari karena menyebabkan inflamasi  Tetes mata steroid untuk mengurangi rasa tidak enak akibat evitis dan untuk mencegah terjadinya hifema ulangan.  Pencucian bilik mata depan dianjurkan jika TIO naik lebih dari 24 jam.  Tindakan operatif (untuk mencegah kenaikan TIO). 6. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Trauma Tumpul Mata (Hifema) a. Pengkajian Subjektif  Pasien mengatakan matanya terasa sakit (cekot-cekot)  Pasien mengatakan penglihatannya kabur Objektif  Mata merah (palpebra, sklera, conjunctiva)  Peningkatan TIO  Penurunan visus  COA (Camera Ocula Anterior) pendarahan b. Diagnosa Keperawatan  Nyeri berhubungan dengan terpajannya reseptor nyeri sekunder trauma tumpul  Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan penglihatan  Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan penurunan ketajaman penglihatan D.CEDERA TAJAM a. DEFINISI Salah satu trauma pada mata yaitu cedera tajam. Trauma tajam, yang mungkin perforatif mungkin juga non perforatif, dapat juga di sertai dengan adanya korpus alienum atau tidak. Korpus alienum dapat terjadi di intraokuler maupun ekstraokuler. Trauma tembus pada mata adalah suatu trauma dimana seluruh lapisan jaringan atau organ mengalami kerusakan. b. ETIOLOGI Trauma tembus disebabkan benda tajam atau benda asing masuk kedalam bola mata. c. GEJALA PADA CEDERA/TRAUMA TAJAM Trauma tajam selain dapat menimbulkan luka pada mata juga dapat meninggalkan benda asing pada mata, benda asing pada mata dapat berupa benda yang beracun atau tidak beracun. Benda beracun contohnya bahan dari logam. Benda yang tidak beracun contohnya pasir. 1) Tajam penglihatan yang menurun 2) Tekanan bola mata rndah 3) Bilikmata dangkal 4) Bentuk dan letak pupil berubah 5) Terlihat adanya ruptur pada corneaatau sclera 6) Terdapat jaringan yang prolapsseperti caiaran mata iris,lensa,badan kaca atau retina 7) Kunjungtiva kemotis d. PENANGANAN Trauma tajam dengan ada luka di mata, jangan member pengobatan dalam bentuk apapun. Sebaiknya mata di bebat atau diplester. Pada umumnya perlu dilakukan operasi dengan segara. e. PATHWAY NURSING Trauma Tajam f. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TRAUMA TAJAM. 1. PENGKAJIAN Hal – hal yang perlu diperhatikan: a. Bagaimana terjadinya trauma mata. Tanggal, waktu dan lokasi kejadian trauma perlu dicatat. Hal ini perlu untuk mengetahui apakah trauma ini terjadi pada waktu seseorang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari. Perlu juga ditanyakan apakah alat-alat yang digunakan waktu terjadi trauma, apakah penderita waktu menggunakan kacamata pelindung atau tidak, kalau seandainya memakai kacamata, apakah kacamata itu turut pecah sewaktu terjadinya trauma. b. Menentukan obyek penyebab trauma mata. Menanyakan secara terperinci komposisi alat sewaktu terjadinya trauma. Apakah alat berupa paku, pecahan besi, kawat, pisau, jenis kayu, bambo dll. Perlu juga ditanyakan apakah alat tersebut berupa benda tajam atau tumpul, atau ada kemungkinan bercampurnya dengan debu dan kotoran lain. c. Menentukan lokasi kerusakan intra okuler. Untuk menentukan lokasi kerusakan pada mata, perlu diketahui jarak dan arah penyebabnya trauma mata, posisi kepala, dan arah penderita melihat pada waktu terjadi trauma. d. Menetukan kesanggupan sebelum trauma. Pada pengkajian ditanyakan apakah ada penyakit mata sebelumnya, atau operasi mata sebelum terjadi trauma pada kedua matanya. Perlu ditanyakan apakah perubahan visus terjadi secara tiba-tiba atau secara berangsur-angsur sebagai akibat ablasio retina, atau vitrium hemorrage. 2.DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Ansietas b/d faktor fisiologis, perubahan status kesehatan: adanya nyeri; kemungkinan /kenyataan kehilangan penglihatan.Kemungkinan dibuktikan oleh: ketakutan, ragu-ragu.menyatakan masalah perubahan hidup. Hasil yang diharapkan: Tampak rileks dan melaporkan ansetas menurun sampai tingkat dapat diatasi. Tindakan / Intervensi :  Kaji tingkat ansetas, derajat pengalaman nyeri / timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.  Berikan informasi yang akurat dan jujur.  Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan.  Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan. Identifikasi sumber / orang yang menolong. b.Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan b/d gangguan penerimaan sensori / status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi. Kemungkinan dibuktikan oleh: menurunnya ketajaman, gangguan penglihatan.Perubahan respon biasanya terhadap rangsang. Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi – pasien akan : -Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu. -Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. -Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan. Tindakan / Intevensi Mandiri:  Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.  Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.  Observasi tanda – tanda dan gejala-gejala disorientasi: pertahankan pagar tempat tidur sampai benar-benar sembuh dari anestasia.  Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dan menyentuh sering, dorong orang tedekat tinggal dengan pasien.  Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata dimanan dapat terjadi bila menggunakan tetes mata. c. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d Prosedur invasive. Kemungkinan dibuktikan oleh : tidak diterapkan ; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa actual. Hasil Yang Diharapkan/ Kriteria Evaluasi Pasien Akan : -Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema,dan demam. -Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi Tindakan/intervensi:  Kaji tanda-tanda infeksi.  Berikan therapi sesuai program dokter.  Anjurkan penderita istirahat untuk mengurangi gerakan mata.  Berikan makanan yang seimbang untuk mempercepat penyembuhan Mandiri:  Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.  Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan.  Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang dioperasi. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf. Ablatio Retina juga diartikan sebagai terpisahnya khoroid di daerah posterior mata yang disebabkan oleh lubang pada retina, sehingga mengakibatkan kebocoran cairan, sehingga antara koroid dan retina kekurangan cairan (Barbara L. Christensen 1991). Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel kerucut atau batang) atau sel glia yang bersifat ganas (Ilyas S. dkk, 1981). Hifema adalah darah dalam bilik mata depan sebagai akibat pecahnya pembuluh darah pada iris, akar iris dan badan silia. 2. Saran. Guna sempurnanya makalah ini,kami dari kelompok 7 sangat mengharapkan kritik serta saran dari Rekan-rekan pembaca dan juga bagi Dosen Pembimbing MK Persepsi Sensori. DAFTAR PUSTAKA Masjoer Arif, DKK.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Juall lynda.2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C & Doenges. 1993. Rencana Asuhan keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Reeves Charlene J., Roux Gayle & Robin.2001. Keperawatan Medikal Bedah Buku 1. Jakarta: Salemba Medika

No comments:

Post a Comment