Friday, August 5, 2011

PERUBAHAN SENSORI dan PROSES KEPERAWATAN DAN PERUBAHAN SENSORI

PERUBAHAN SENSORI dan PROSES KEPERAWATAN DAN PERUBAHAN SENSORI
A. SENSASI NORMAL.
Secara fisiologis, sistem saraf secara terus menerus menerima ribuan informasi dari organ saraf sensosri, menyalurkan informasi melalui saluran yang sesuai, dan mengintegrasikan informasi menjadi respon yang bermakna.
Sumber stimulus berasal dari dalam dan luar tubuh, khususnya melalui indra penglihatan ( visual ), pendengaran ( auditori ), perabaan ( taktil ), penciuman ( olfaktori ) dan rasa ( gustatori ), tubuh juga mempunyai rasa indera kinestetik yang memungkinkan seseorang menyadari posisi dan pergerakan bagian tubuh tanpa melihatnya. Stereognosis adalah indra yang memungkinkan seseorang mengenali ukuran, bentuk, dan tekstur benda.
Stimulus sensori mencapai organ sensori dan menghasilkan reaksi yang segera atau informasi tersebut saat itu disimpan ke otak untuk digunakan dimasa depan.
Sistem saraf harus utuh agar stimulus sensori mencapai pusat otak yang sesuai dan agar individu menerima sensai.
Setelah menginterpretasi makna sensasi, maka orang dapat bereaksi terhadap stimulus.
Tiga komponen dalam penerimaan setiap pengalaman sensori adalah, penerimaan, persepsi dan reaksi.
Penerimaan di mulai dengan stimulasi sebuah sel saraf yang disebut Reseptor, yang biasanya diciptakan hanya untuk satu jenis stimulus, seperti cahaya atau bunyi suara.
Setelah impuls saraf tercipta, maka akan berjalan sepanjang jalur ke medulla spinalis atau secara langsung ke otak.
Jalur saraf sensori biasanya menyeberang untuk mengirim stimulus ke sisi yang berlawanan otak.
Persepsi actual atau kesadaran sensasi unik tergantung pada area penerimaan dari korteks serebral, tempat sel otak khusus menginterpretasikan kualitas dan sifat stimulus sensori.
Jika seseorang sadar terhadap stimulus dan menerima informasi maka akan terjadi persepsi.
Tingkat kesadaran mempengaruhi sejauh mana stimulus di persepsikan dan diinterpretasikan. Setiap faktor yang menurunkan kesadaran akan merusak persepsi sensori.
Persepsi termasuk integrasi dan interpretasi stimulus berdasarkan pengalaman seseorang.
Jika sensasi tidak lengkap, seperti adanya pandangan kabur, atau pengalaman masa lalu tidak adekuat untuk memahami stimulus seperti nyeri, maka orang tersebut dapat bereaksi terhadap stimulus sensasi secara tidak tepat.
Keseimbangan antara stimulus sensor yang masuk otak dan mencapai kesadaran seseorang secara actual akan mempertahankan kesehatan seseorang,Jika seorang individu mencoba bereaksi terhadap setiap stimulus didalam lingkungan atau jika ketidakcukupan ragam dan kualitas stimulus maka akan terjadi perubahan sensori.
B. PERUBAHAN SENSORI
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sensori adalah:
1. Usia.
* Bayi tidak mampu membedakan stimulus sensori karena jalur sarafnya masih belum matang.
* Penglihatan berubah selama usia dewasa mencakup presbiopia ( ketidakmampuan memfokuskan pada objek dekat ), dan kebutuhan kaca mat baca ( usia 40 – 50 th )
* Pendengaran berubah, mulai usia 30 th, temasuk penurunan tajam pendengaran, kejelasan bicara, perbedaan pola tinggi suara dan ambang pendengaran,
* Lansia mengalami penurunan lapang penglihatan, peningkatan sensitivitas cahaya yang menyilaukan, kerusakan penglihatan pada malam hari, penuruanan akomodasi, dan kedalaman persepsi dan diskrimionasi warna.
* Lansia memiliki kesulitan membedakan konsonan, suara bicara bergetar, dan terdapat perpanjangan persepsi dan reaksi bicara.
* Perubahan gustatori dan olfaktori mencakup penurunan dalam jumlah ujung saraf pengecap dan penciuman. Serta penurunan diskriminasi rasa dan sensitivitas terhadap bau.
* Proprioseptif berubah setelah usia 60 tahun , termasuk kesulitan dengan keseimbangan, orientasi mengenai tempat dan koordinasi.
* Lansia mengalami perubahan taktil, termasuk penurunan sensitivitas terhadap nyeri, tekanan dan suhu.
2. Medikasi.
* Beberapa obat antibiotika ( misal streptomisin, gentamisin ) adalah antibiotika yang ototoksik dan secara permanent dapat merusak saraf pendengaran , klorampenikol dapat
mengiritasi saraf optic, Obat jenis analgesic narkotik, sedative dan antidepresan dapat mengubah peresepsi stimulus.
3. Lingkungan.
* Stimulus lingkungan yang berlebihan( peralatan yang bising, percakapan staf di dalam unit perawatan ) dapat menghasilkan beban sensori yangberlebihan yang ditandai dengan kebingungan, disorientasi, dan ketidakmampuan membuat keputusan.
* Stimulus lingkungan yang terbatas ( isolasi ) dapat mengarah kepada deprivasi sensori, serta kualitas lingkungan yang buruk( misal penerangan yang buruk, lorong yang sempit, latar belakang yang bising ) dapat memperburuk kerusakan sensori.
4. Tingkat kenyamanan.
* Nyeri dan kelelahan mengubah cara seseorang berpersepsi dan bereaksi terhadap stimulus.
5. Penyakit yang ada sebelumnya.
* Penyakit vascular perifer dapat menyebabkan penurunan sensasi pada ekstremitas dan kerusakan kognisi.
* Penyakit Diabetes kronik dapat mengarah pada penurunan penglihatan, kebutaan, atau neuropati perifer.
* Penyakit Stroke sering menimbulkan kehilangan kemampuan bicara, kerusakan fungsi motorik dan penerimaan sensori.
6. Merokok.
* Penggunaan tembakau yang kronik dapat menyebabkan atropi ujung-ujung saraf pengecap, mengurangi persepsi rasa.
7. Tingkat kebisingan.
* Pemaparan yang konstan pada tingkat kebisingan yang tinggi dapat meyebabkan kehilangan pendengaran.
8. Intubasi Endotrakea.
* Kehilangan kemampuan bicara sementara akibat pemasukan selang endotrakea melalui mulut atau hidung kedalam trakea.
C. JENIS-JENIS PERUBAHAN SENSORI
1. Defisit Sensori.
Adalah suatu kerusakan dalam fungsi normal penerimaan dan pesepsi sensori. Individu tidak mampu menerima stimulus tertentu.( misalnya kebutaan atau tuli ), atau stimulus menjadi distorsi ( misalnya penglihatan kabur karena katarak ).
Kehilangan sensori secara tiba-tiba dapat menyebabkan ketakutan, marah, dan perasaan tidak berdaya.Pada awalnya individu bersikap menarik diri dengan menghindari komunikasi atau sosialisasi dengan orang lain dalam suatu usaha untuk mengatasi kehilangan sensori.
Klien yang mengalami deficit sensori dapat mengubah perilaku dalam cara-cara yang adaptif atau maladaptif
2. Deprivasi Sensori.
Sistem pengaktivasi reticular dalam batang otak menyebabkan semua stimulus sensori ke korteks serebral, sehingga meskipun saat tidur yang nyenyak, klien mampu menerima stimulus.
Jika seseorang mengalami suatu stimulasi yang tidal adekuat kualitas dan kuantitasnya seperti stimulus yang monoton atau tidakl bermakna maka akan terjadi deprivasi sensori.
Tiga jenis deprivasi sensori adalah kurangnya input sensori ( karena kehilangan penglihatan dan pendengaran ), Eliminasi perintah atau makna dari input ( misal terpapar pada lingkungan asing ) dan Restriksi dari lingkungan ( misalnya tirah baring atau berkuranya variasi lingkungan ) yang menyebabkan monoton dan kebosanan.
Efek dari deprivasi sensori adalah :
a. Kognitif
Penurunan kapasitas belajar, ketidakmampuan berpikir atau menyelesaikan masalah, penampilan tugas buruk, disorientasi, berpikir aneh, regresi,
b. Afektif.
Kebosanan, kelelahan, peningkatan kecemasan, kelabilan emosi, dan peningkatan kebutuhan untuk stimulasi fisik.
c. Persepsi.
Disorganisasi persepsi terjadi pada koordinasi visual, motorik, persepsi warna, pergerakan nyata, keakuratan taktil, kemampuan untuk mempersepsikan ukiran dan bentuk, penilaian mengenai ruang dan waktu.
3. Beban Sensori yang berlebihan.
Adalah suatu kondisi dimana individu menerima banyak stimulus sensori dan tidak dapat secara perceptual tidak menghiraukan beberapa stimulus.
Pada kondisi ini dapat mencegah otak untuk berespon secara tepat atau mengabaikan stimulus tertentu.
Sehingga individu tidak lagi mempersepsikan lingkungan secara rasional.
Kelebihan sensori mencegah respon yang bermakna oleh otak, menyebabkan respon yang berpacu, perhatian bergerak pada banyak arah dan menjadi lelah.
Kelebihan sensori adalah individual, karena jumlah stimulus yang dibutuhkan untuk berfungsi sehat bervariasi.
Toleransi seseorang pada bebab sensori yang berlebihan dapat bervariasi oleh tingkat kelelahan, sikap, dan kesehatan emodional dan fisik.
Perubahan perilaku yang berhubungan dengan beban sensori yang berlebihan dapat dengan mudah menjadi bingung atau disorientasi sederhana.
D. PROSES KEPERAWATAN DAN PERUBAHAN SENSORI
1. Pengkajian.
* Kaji semua faktor yang mempengaruhi fungsi sensori
* Kaji kebiasaan promosi kesehatan .
* Kaji fungsi sensori pada klien yang beresiko : usia ( lansia ) dan pekerjaan
Pada pekerja dan aktivitas waktu senggang yang menghadapi resiko perubahan sensori
a. Pendengaran : Pekerja pabrik, pekerja bandara, musisi rock, pekerja konstroksi yang menggunakan alat pelobang beton.
b. Penglihatan : Terpapar dengan gas yang mengiritasi, pegelasan, terpapar dengan mesin kecepatan tinggi.
c. Cedera saraf perifer : gerakan yang berukang-ulang. Program computer, pekerja pabrik.
d. Trauma : Peralatan industri dan pekerja kayu perumahan ( tukang )
Pengkajian Fungsi sensori .
a. Penglihatan.
* Minta klien membaca koran, majalah.
* Ukur ketajaman visual dengan grafik snellen
* Kaji lapang pandang dan kedalaman persepsi.
* Kaji ukuran pupil dan akomodasi terhadap sinar.
* Minta klien mengidentifikasi warna pada grafik berwarna.
b. Pendengaran.
* Lakukan pengkajian konvensional, termasuk tanda jam, garpu tala.
* Lakukan Audiometri.
* Observasi klien yang berbincang dengan orang lain.
* Kaji persepsi klien akan kemampuan pendengaran dan riwayat tinnitus.
* Inspeksi adanya serumen yang keras pada saluran telinga.
c. Sentuhan.
* Kaji kesensitifan klien terhadap sentuhan cahaya dan temperature.
* Periksa kemampuan klien untuk membedakan antara stimulus tajam dan tumpul.
* Kaji apakah klien mampu membedakan objek ditangan dengan mata tertutup.
* Tanya apakah klien merasakan sensasi yang tidak seperti biasanya.
d. Penciuman.
* Minta kiklen untuk menutup matanya dan identifikasi beberapa bau yang tidak mengiritasi.
e. Rasa.
* Minta klien untuk menyebutkan dan membedakan rasa yang berbeda ( misal lemon, gula, garam.
f. Indera Posisi
* Lakukan tes konvensional untuk keseimbangan dan indra posisi.
2. ,Riwayat
* Tanyakan sifat dan karakteristik perubahan sensori atau setiap masalah yang berhubungan dengan suatu perubahan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA UNTUK PERUBAHAN SENSORI.
1. Perubahan sensori / persepsi ( penglihatan ) yang berhubungan dengan :
* Efek dari penuaan.
* Efek dari tambalan operasi mata sementara.
2. Perubahan sensori / perceptual ( Audtori ) yang berhubungan dengan :
* Efek samping obat
* Lingkungan ICU yang asing dan berisik.
3. Perubahan sensori / persepsi ( kinestetik ) yang berhubungan dengan
* Efek tirah baring lama.
4. Perubahan sensori/ persepsi ( gustatory ) yang berhubungan dengan :
* Efek dari penuaan.
* Efek samping kemoterapi .
5. Defisit perawatan diri : higine/ mandi, berhias berpakaian yang berhubungan dengan :
* Kehilangan penglihatan.
* Pengurangan sensasi taktil.
6. Risiko Cidera berhubungan dengan :
* Penurunan persepsi yang dalam.
* Penurunan indra penciuman.
7. Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan :
* Afasia motorik.
8. Gangguan penyesuain diri yang berhubungan dengan :
* Beban sensori yang lebih.
* Defisit sensori.
9. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan :
* Perubahan keseimbangan.
10. Isolasi social yang berhubungan dengan :
* Afasia ekspresif.
* ketidakmampuan untuk bicara disebabkan adanya selan ET.
PERENCANAAN
Meliputi:
1. Tujuan
2. Hasil yang diharapkan.
3. Intervensi
4. Rasional.
IMPLEMENTASI.
1.Peningkatan Kesehatan
Fungsi sensori yang baik dimulai dengan pencegahan .
Hampir semua orang dapat terpapar dengan resiko dilingkunga yang menyebabkan perubahan sensori.
Ketika klien memasuki lingkungan perawatan utama, perawat dapat memberi kesempatan untuk mengkaji ulang pendekatan rasa yang umum untuk mengurangi resiko kehilangan sensori.
a. Skrining.
Pencegahan kerusakan penglihatan pada anak-anak memerlukan skrining yang tepat.
Ada tiga intervensi yang direkomendasikan yaitu :
1) Skrining untuk rubella atau sifilis pada wanita dengan pertimbangan kehamilan.
2) Perawatan prenatal yang cukup untuk mencegah kelahiran premature dengan bahaya terpaparnya bayi dengan oksigen yang berlebihan.
3) Skrining yang periodic untuk semua anak-anak, khususnya bayi yang baru lahir, prasekolah.
b. Keamanan Preventif.
Trauma merupakan penyebab umum kebutaan pada anak-anak.
Cidera yang tajam dari objek propulsive seperti petasan, ketapel, batu, atau luka yang tajam karena tongkat, gunting atau senjata mainan.
Orang dewasa beresiko cedera mata ketika berolah raga dan bekerja dalam pekerjaan yang melibatkan pemaparan zat-zat kimia dan objek yang terbang.
c. Pemeliharaan kesehatan.
1) Penggunaan alat Bantu.
d. Peningkatan Stimulasi yang bermakna.
1). Penglihatan
2). Pendengaran.
3). Rasa dan penciuman.
4). Sentuhan
d. Menciptakan lingkungan yang nyaman.
1). Adaptasi untuk kehilangan penglihatan.
2). Adaptasi pada penurunan pendengaran
3). Adaptasi pada penurunan penciuman.
4). Adaptasi pada berkurangnya sensasi taktil.
e. Peningkatan komunikasi.
f). Penanganan deficit sensori akut
1). Orientasi lingkungan.
2). Tindakan keselamatan
3). Komunikasi
f. Pengontrolan Stimulus sensori.
1). Pemeliharaan gaya hidup sehat.
2). Pemahaman kehilangan sensori.
3). Sosialisasi.
g. Peningkatan perawatan diri.
EVALUASI.
* Evaluasi apakah tindakan perawatan meningkatkan atau mempertahankan kemampuan klien untuk berinteraksi dan befungi dalam lingkungan.
* Evaluasi integritas organ sensori dan kemampuan klien merasakan stimulus
* Evaluasi perubahan terhadap tingkat pembelajaran yang sudah diberikan.

No comments:

Post a Comment