Friday, August 5, 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA RETINOBLASTOMA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA RETINOBLASTOMA

1.1 Pengertian

Retinoblastoma merupakan tumor ganas intraokular yang ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia dibawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan retino embrional (Mansjoer, 2005).

Retinoblastoma adalah kanker pada retina (daerah di belakang mata yang peka terhadap cahaya) yang menyerang anak berumur kurang dari 5 tahun (www.medicastore.com).

Retinoblastoma adalah Kanker mata pada anak-anak. Kanker ini asli berasal dari jaringan Retina suatu jaringan mata yang sensitif terhadap cahaya atau sinar (www.crb.elga.net.id).

1.2 Etiologi

Penyebabnya adalah tidak terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya cenderung diturunkan. Sekitar 10% penderita retinoblastoma memiliki saudara yang juga menderita retinoblastoma dan mendapatkan gennya dari orang tua. Kanker bisa menyerang salah satu maupun kedua mata.
Kanker bisa menyebar ke kantung mata dan ke otak (melalu saraf penglihatan/nervus optikus).

1.3 Manifestasi klinis

1.3.1 Gejala

Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit lain dimata.

a. Strabismus karena penurunan penglihatan dan apabila letak tumor di makula.

b. Kadang mata merah yang nyeri

c. Massa tumor yang makin membesar akan memperlihatkan leukokoria

1.3.2 Tanda

Funduskopi dengan pupil yang dilebarkan memperlihatkan massa merah muda keputihan yang menonjol keluar dari retina ke dalam ruang vitreous. Bila sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata, akan menyebabkan glukoma atau tanda-tanda peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui nervus optikus ke otak melalui sklera ke jarinngan orbita dan sinus pranasal, metastasis jauh kes sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat menonjol kedalam badan kaca. Dipermukaan terdapt neovaskularisasi dan perdarahan. Warna iris tidak normal.

1.4 Komplikasi

Komplikasi pada retinoblastoma adalah lepasnya Retina (ablasio retina), peninggian tekanan bola mata (glucoma) (www.crb.elga.net.id).

1.5 Penatalaksanaan

Pengobatan retinoblastoma ialah enukleasi bulbi yang disusul dengan radiasi. Apabila retinoblastoma sudah meluas sampai ke jaringan orbita maka dilakukan eksenterasi orbita disusul dengan radiasi dan bila diberikan kemoterapi (Ilyas dkk, 2002).

Harus dilakukan pemantauan teratur pada anak yang menderita retinoblastoma dan keturunan berikutnya. Konseling genetik harus ditawarkan dan anak dengan orang tua yang pernah mengalami retinoblastoma harus diawasi sejak bayi (James dkk, 2005).

Bila tumor masih terbatas intraokular, pengobatan dini mempunyai prognosis yang baik. Tergantung dari letak, besar, dan tebal,pada tumor yang masih intraokular dapat dilakukan krioterapi, fotokoagulasi laser, atau kombinasi sitostatik dan fotokoagulasi laser untuk mempertahankan visus. Pada tumor intraokular yang sudah mencapai seluruh vitreus dan visus nol, dilakukan enukleasi. Bila tumor telah keluar bulbus okuli, tapi masih terbatas dirongga orbita, dilakukan kombinasi eksentrasi, radioterapi, dan kemoterapi. Pasien harus terus dievaluasi seumur hidup karena 20-90% pasien retinoblastoma bilateral akan menderita tumor ganas primer, terutama osteosarkoma (mansjoer, 2005).

Beberapa cara terapi adalah :

1. Enukleasi mengangkat boila mata dan dioganti dengan bola mata prothese (buatan).

2. Penyinaran bola mata. Retino blastoma bersifat radiosensitif, sehingga terapi ini sangat efelktipo. Bahayanya jaringan sekitarnya dapat rusak akibat penyinaran.

3. Photocoagulation : terapi dengan sinar Laser ini sangat efektip pada ukuran Kanker yang kecil.

4. Cryotherapy : terapi dengan cara pendinginan (pembekuan) pada kanker ukuran kecil terapi ini berhasil baik.

5. Chemotherapy : diberikan obat-obatan anti kanker yang dapat mengecilkan ukuran kanker.

Cara terapi mana yang dipakai tergantung dari :

1. Ukuran kanker

2. Lokasi kanker

3. Apakah sudah menjalar atauy belum

4. Bagaimana status/keadaan bola mata yang lain

5. Adanya komplikasi

6. Riwayat keluarga

7. Tersedianya fasilitas untuk terapi-terapi diatas.

1.6 ASKEP

1.6.1 Pengkajian

Riwayat kesehatan pendahuluan diambil untuk menentukan masalah kesehatan primer klien, seperti penurunan penglihatan, adanya reflex putih (luekokoria), nyeri , menonjolnya bola mata. Perawat juga harus menentukan apakah masalahnya hanya mengenai satu mata atau dua mata dan berapa lama klien sudah menderita kelainan ini.

Riwayat mata yang jelas sangat penting. Penyakit keluarga adakah kelainan pada famili. Pemahaman pasien mengenai perawatan dan penatalaksanaan mata harus digali untuk mengidentifikasi keesalahan informasi yang dapat dikoreksi sejak awal.

1.6.2 Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri b/d inflamasi, peningkatan TIO

b. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan b/d tidak mengenal sumber informasi

c. Isolasi sosial b/d keterbatasan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas sosial akibat kerusakan penglihatan

1.6.3 Intervensi

a. Kaji tingkat nyeri, penyebab dan hal-hal yang dapat meradakan nyeri

b. Berikan balutan mata untuk mengurangi pergerakan mata dan mengurangi nyeri yang diakibatkannya.

c. Berikan analgetik dan antibiotik sesuai terapi yang diperintahkan

d. Bantu aktivitas klien selama sakit

e. Jelaskan semua prosedur tindakan yang akan diberikan pada klien

f. Jelaskan tentang retinoblastoma, penyebab, komplikasi dan hal-hal yang memperburuk kondisi mata

g. Bantu pasien untuk belajar melakukan koping dan menyesuaikan diri terhadap situasi

h. Dorong pasien untukbersosialisasi dengan sekitarnya

1.6.4 Evaluasi

a. Nyeri berkurang ditandai dengan klien mengurangi aktivitas mata dengan menggunakan balutan mata yang memadai dan mengistirahatkan mata nya.

b. Klien dapat menjelaskan penyebab retinoblastoma dan pencegahannya

c. Berpartisipasi dalam aktivitas diversional dan sosial

DAFTAR PUSTAKA

Ø Suddarth & Brunner, Keperawatan Medikal Bedah, 2002. EGC: Jakarta

Ø Kapita Selekta Kedokteran, EGC: Jakarta Donges

Lecture notes Oftalmologi,edisi 9, bruce james dkk,2005, EMS

Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedoteran edisi 2, Prof.dr.Sidarta Ilyas SpM dkk, 2002, sagung seto

No comments:

Post a Comment