Friday, October 21, 2011

Penatalaksanaan Penyakit Jantung Bawaan

Dampak penyakit jantung bawaan terhadap angka kematian bayi dan anak cukup tinggi sehingga dibutuhkan tata laksana PJB yang cepat, tepat dan spesifik. Sebelum era intervensi non-bedah berkembang, semua jenis PJB ditata laksana dengan tindakan bedah/operasi. Dengan berkembangnya teknologi melalui teknik kateterisasi dan intervensi, sebagian dari PJB dapat ditata laksana tanpa operasi. Kelebihan tindakan intervensi non-bedah dibandingkan dengan bedah adalah pasien terbebas dari komplikasi operasi, penggunaan mesin jantung-paru, waktu penyembuhan lebih cepat, lamanya masa perawatan di rumah sakit menjadi singkat, dan tidak ada jaringan parut bekas operasi di dada. Penggunaan mesin jantung paru terbuka berisiko menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak di kemudian hari.
Prosedur kardiologi intervensi non bedah dapat berupa dilatasi untuk membuka atau melebarkan katup atau pembuluh darah, oklusi untuk menutup lubang atau pembuluh darah serta kardiologi intervensi pediatrik pada penyakit jantung bawaan kompleks. (1)
Berdasarkan kelainan anatomis, PJB secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: (2)
1. Penyempitan atau bahkan pembuntuan bagian tertentu jantung
a. Stenosis katup pulmonalPada kondisi ini, jantung tidak dapat memompakan darah sesuai kebutuhan tubuh dan sesuai jumlah darah yang kembali ke jantung, sehingga terjadilah bendungan sistemik. Tindakan yang dilakukan antara lain adalah pelebaran katup pulmonalis dengan kateter balon (ballon pulmonary valvuloplasty) melalui kateterisasi.
b. Stenosis katup aorta
Terjadi kelebihan beban tekanan pada ventrikel kiri, yang mengakibatkan gagal jantung kiri. Penanganannya juga menggunakan kateter balon (ballon aortic valvuloplasty) melalui kateterisasi.
c. Atresia katup pulmonal
Pada kasus ini, katup pulmonal sama sekali buntu sehingga tidak ada aliran darah ke paru. Pasien biasanya dapat bertahan hidup jika duktus arteriosus tetap terbuka. Oleh karena itu, diberikan prostaglandin E-1 untu menjaga duktus arteriosus tetap terbuka setelah kelahiran. Namun, obat ini bersifat sementara dan harus segera diikuti tindakan selanjutnya membuka katup pulmonal baik secara bedah maupun non-bedah dengan membuat lubang (perforasi) pada katup dilanjutkan pelebaran lubang dengan kateter balon. Sedangkan atresia katup pulmonal dengan DSV harus dilanjutkan dengan tindakan bedah dengan memasang saluran antara arteri subklavia dan arteri pulmonalis kanan atau kiri (prosedur Ballock-Tausig shunt) atau mempertahankan DAP tetap terbuka dengan memasang stent di DAP.
d. Koarktasio Aorta
Pada kasus ini, pembuluh darah aorta mengalami penyempitan. Untuk mengatasi komplikasi yang mungkin muncul, duktus arteriosus dipertahankan terbuka dengan pemberian prostaglandin E-1 untuk selanjutnya dilakukan pelebaran aorta.
2. Ada lubang pada sekat pembatas antara kedua serambi atau bilik jantung (septum).
Pada kasus tersebut dapat terjadi pirau dari satu sisi ke sisi lainnya. Beban volume yang berlebihan dapat menimbulkan gagal jantung kiri maupun kanan. Oleh karena itu, pengobatan yang dilakukan berguna untuk mengurangi beban volume pada jantung seperti obat diuretik, dan obat vasodilator.
  1. Defek septum atrium: ditutup dengan alat penyumbat Amplatzer septal occluder (ASO)
  2. Defek septum ventrikel: defek perimembran dan muskular dapat ditutup dengan amplatzer membranous/muscular VSD occluder (AVO) melalui kateter dari pembuluh darah vena di lipat paha. Namun, pada jenis subarterial doubly commited (SADC) tetap diperlukan pembedahan.
  3. Duktus arterious persisten: utamanya, DAP ditutup dengan tindakan non bedah amplatzer duct occluder. Bila DAP terlalu besar atau bayi kecil dengan erat<6kg, tindakan bedah masih pilihan utama. Untuk bayi prematur, dapat dirangsang penutupannya dengan pemberian antiprostaglandin berupa indometasin atau ibuprofen.
3. Pembuluh aorta keluar dari bilik kanan dan pembuluh darah pulmonal keluar dari bilik kiri (Transposis arteri besar)Pada kasus ini, diperlukan percampuran darah antara jantung kiri dan kanan yang dapat diperoleh dari DAP, DSA atau DSV. Jika tidak disertai dengan DSV, pemberian prostaglandin E-1 penting untuk menjaga DAP. Namun, sifatnya sementara dan harus segera diikuti dengan tindakan pembuatan lubang sekat serambi secara non bedah dengan balon. Tindakan tersebut disebut ballon atrial septostomy (BAS).
Selain kelainan anatomi, PJB juga menyangkut kelainan pada sistem konduksi jantung. Pacu jantung yang lemah atau adanya blok pada sistem konduksi jantung, berakibat denyut nadi pelan sehingga kebutuhan sirkulasi tubuh tidak tercukupi. Pada kasus ini diperlukan pemasangan alat pacu jantung permanen tanpa bedah dengan menanam batere di bawah kulit di bahu kiri atau kanan dan memasukan elektroda ke dalam serambi atau bilik jantung kanan melalui vena subklavia kiri atau kanan. Pada bayi, diperlukan tindakan pembedahan dengan menempelkan elektroda epikardial di permukaan jantung dan menanam baterenya di bawah kulit di daerah subsifoid.
Defek Septum Atrium(3)
Defek septum atrium merupakan keadaan di mana terjadi defek pada bagian septum antar atrium sehingga terjadi komunikasi langsung antara atrium kiri dan kanan. Penatalaksanaan pada penderita yang sudah dewasa dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk keluhan, umur, ukuran dan anatomi defek, adanya kelainan yang menyertai, tekanan arteri pulmonal serta resistensi vaskular paru.
Defek septum atrium yang signifikan dapat mengakibatkan volume overload pada jantung kanan sehingga terjadi gagal jantung kanan. Pada usia dewasa, DSA besar merupakan faktor presdisposis terjadinya gagal jantung dan aritmia.(1) Selain itu, ukuran DSA cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan massa tubuh. Oleh karena itu, idealnya, penutupan dilakukan sebelum usia sekolah. Adapula yang menyatakan bahwa jika memungkinkan, anak ditunggu sampai 5 tahun atau memiliki berat badan lebih dari 20 kg.
Indikasi penutupan DSA adalah:
  • Pembesaran jantung pada foto toraks, dilatasi ventrikel, kanan, kenaikan tekanan arteri pulmonalis 50% atau kurang dari tekanan aorta, tanpa mempertimbangkan keluhan. (4)Prognosis penutupan DSA lebih baik dibandingkan dengan pengobatan medikamentosa. Pada kelompok umur 40 tahun ke atas harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya aritmia atrial, terutama jika memang sebelumnya sudah pernah terjadi gangguan irama. Pada kelompok ini diperlukan ablasi perkutan atau ablasi operatif pada saat penutupan DSA.
  • Adanya riwayat iskemik transcient atau stroke pada DSA atau foramen ovale persisten. (3)
Operasi merupakan kontraindikasi jika terjadi kenaikan resistensi vaskular paru 7-8 unit, atau ukuran defek kurang dari 8 mm tanpa keluhan dan pembesaran jantung kanan. Tindakan penutupan dapat dilakukan dengan operasi terutama untuk defek yang sangat besar lebih dari 40 mm, atau tipe DSA selain tipe sekundum. Untuk DSA sekundum dengan ukuran defek lebih kecil dari 40 mm harus dipertimbangkan penutupan dengan kateter menggunakan amplatzer septal occluder. Masih dibutuhkan evaluasi jangka panjang untuk menentukan kejadian aritmia dan komplikasi tromboemboli.
Kriteria pasien DSA yang akan dilakukan pemasangan ASO antara lain:

  1. DSA sekundum
  2. Diameter kurang atau sama dengan 34mm
  3. Flow ratio lebih atau sama dengan 1,5 atau terdapat tanda-tanda beban volume pada ventrikel kanan.
  4. Mempunyai rim posterior minimal 5mm dari vena pulmonalis kanan
  5. Defek tunggal tanpa kelainan jantung yang membutuhkan intervensi bedah
  6. Muara vena pulmonalis normal ke atrium kiri
  7. Hipertensi pulmonal dengan resistensi vaskuler paru kurang dari 7-8 wood unit (normalnya 0.25-2.6 mmHg∙min/l)
  8. Bila ada gagal jantung, fungsi ventrikel (ejection fraction) harus lebih dari 30%.

Intervensi non-bedah ada DSA menunjukan hasil yang baik serta dapat mengurangi kejadian aritmia atrium dan dapat digunakan pada DSA berdiameter sampai dengan 34 mm. Sesudah dilakuan penutupan DSA, pemantauan sangat penting dilakukan. Pada orang yang sudah dewasa atau umur lebih lanjut, perlu evaluasi periodik, terutama jika saat operasi telah ada kenaikan tekanan arteri pulmonal gangguan irama, atau disfungsi ventrikel. Namun, pada anak-anak umumnya tidak bermasalah, dan tidak memerlukan pemantauan. Profilaksis untuk endokarditis diperlukan pada DSA primum, regurgitasi katup, juga dianjurkan pemakaian antibiotik selama 6 bulan pada kelompok yang menjalani penutupan perkutan.
Beberapa alat yang digunakan pada intervensi non bedah, di antaranya adalah

  • Amplatzer septal occluder
  • Atrial septal defect occlusion (ASDOS)
  • Button device
  • Guardian angel//angel wings
  • Helex septal occluder
  • Starflex/Bard clamshell/cardioseal
  • Transcathether patch closure

Menurut penelitian oleh Massimo Chessa et al. tahun 1996-2001 menemukan insiden komplikasi sebanyak 8.6%. Malposisi/embolisasi merupakan komplikasi tersering ditemukan (3,5%). Selanjutnya adalah kejadian aritmia (2,6%). Komplikasi lain adalah pembentukan trombus di diskus atrium kiri setelah prosedur dilakukan. Maka, diberikan anti-agregasi trombosit oral 1 hari sebelum prosedur dilakukan. Komplikasi lain seperti diseksi vena iliaka kanan, hematoma pada lipat paha, perdarahan retrofaring berkaitan dengan kesalahan manajemen selama prosedur.(1)
Defek Septum Ventrikel
Defek septum ventrikel merupakan kelainan jantung berupa adanya sekat antar ventrikel pada berbagai lokasi.
Penatalaksanaan pada pasien ini bertujuan untuk mencegah timbulnya kelainan vaskular paru permanen, mempertahankan fungsi atrium, dan ventrikel kiri serta mencegah kejadian endokarditis infektif. Defek kecil biasanya disertai dengan thrill pada garis sternal kiri sela iga keempat. Bising bersifat holosistolik, tetapi dapat juga pendek.
Defek septum ventrikel dapat menutup seiring dengan bertambahnya usia, kecuali defek sub aortik, sub pulmonik, atau defek kanal. Penutupan 25-40% terjadi pada usia 2 tahun, 90% pada saat umur 10 tahun.(3) Meskipun begitu, defek yang lebh besar biasanya menyebabkan gagal jantung kiri dan hipertensi pulmonalis.
Alat yang digunakan pada penutupan defek septum ventrikel diantaranya adalah Rashkind double umbrella, the bard clamshell, the button device, the amplatzer septal occluder, amplatzer duct occluder atau Gianturco coils.
Pada pasien yang tidak dioperasi, prognosis baik jika terjadi penutupan spontan DSV, demikian juga pada DSV yang kecil dan asimptomatik. Pada pasien yang dioperasi tanpa hipertensi pulmonal mempunyai angka kekerapan hidup yang normal. (3)
Untuk pengobatan medikamentosa, DSV yang kecil dan tanpa gejala tidak perlu diberikan terapi. Pada kejadian gagal jantung, dapat diberikan diuretik misalnya furosemid 1-2 mg/kgBB/hari, vasodilator misalnya kaptopril 0,5-1 mg/kgBB/kali tiap 8 jam. Kalau perlu ditambahkan digoksin 0,01 mg/kg/hari. Pemberian makanan berkalori tinggi dilakukan dengan frekuensi sering secara oral/enteral (melalui NGT). Anemia diperbaiki dengan preparat besi. Selanjutnya, karena beresiko endokarditis, sangat disarankan untuk menjaga kebersihan mulut dan pemberian antibiotik profilaksis terhadap infeksi endokarditis. Penutupan DSV dapat dikerjakan dengan intervensi non-bedah menggunakan Amplatzer VSD occluder atau dengan tindakan bedah.
Indikasi dan waktu penutupan DSV adalah sebagai berikut.
  • Pada bayi dengan DSV defek besar yang mengalami gagal jantung serta retardasi pertumbuhan dan kegagalan terapi medikamentosa dialkukan operasi secepatnya sebelum terjadi penyakit vaskular paru.
  • Bayi atau anak dengan DSV besar dan hipertensi pulmonalis harus dilakukan kateterisasi untuk menilai tingginya resistensi vaskular paru dan responnya terhadap pemberian oksigen 100%. Penutupan DSV secara bedah ataupun non-bedah dilakukan apabila resistensi vaskular paru di bawah 7 wood unit
Duktus Arteriosus Persisten
Merupakan kondisi saat vaskular yang menghubungkan arteri pulmonal dan aorta pada fase fetal, tetap paten sampai lahir. Semestinya pembuluh darah tersebut akan menutup secara spontan dalam waktu 24 jam sampai 7 hari setelah lahir. Penutupan tersebut melibatkan penurunan kadar prostaglandin dan peningkatan kadar oksigen dalam darah sesaat setelah lahir serta dilanjutkan invilusi tunika intima dan pelipatan tunika media duktus.
Penutupan DAP dianjurkan dengan alasan hemodinamik, mencegah endokarditis, dan mencegah terjadinya hipertensi pulmonal. Intervensi dengan kateter merupakan pilihan pada penutupan DAP, terutama jika terjadi kalsifikasi pada duktus karena akan meningkatkan resiko pada operasi. Operasi dianjurkan pada DAP yang besar atau terdapat distorsi seperti aneurisma. (3) Pada DAP yang besar, dengan hipertensi pulmonal yang sudah lanjut sehingga terjadi pirau dari kanan ke kiri dan sudah terjadi penyakit vaskular paru, maka DAP tidak dianjurkan ditutup.(1)
Pada bayi prematur, 10-70% biasanya menderita DAP akibat kadar prostaglandin yang masih tinggi dalam darah. Oleh karena itu, umumnya DAP pada bayi prematur dapat diberik terapi awal dengan obat anti-prostaglandin, namun jika gagal dan bayi dalam keadaan gagal jantung yang sulit diatasi dengan obat anti-gagal jantung, perlu tindakan bedah ligasi DAP. Obat yang merangsang penutupan DAP di antaranya adalah indometasin ataupun ibuprofen.(1)
Dosis indometasin pada neonatus prematur dapat dimulai dari dosis 0.2 mg/kgBB pada hari pertama, selanjutnya 0.1 mg/kg mulai hari kedua sampai hari ke-7. Dosis ibuprofen adalah 10mg/kg pada hari pertama selanjutnya 5 mg/kg pada hari ke-2 dan ke-3. Efek optimal bila pemberian dilakukan sebelum usia 10 hari.
DAP sedang dan besar disertai gagal jantung, diberi diuretik, kalau perlu ditambah dengan digitalis atau inotropik yang sesuai. Pada neonatus atau bayi kurang dari 6 kg, bila gagal jantung tidak teratasi dengan medikamentosa, dianjurkan operasi ligasi. Jika lebih dari 6 kg atau pada anak serta dewasa, DAP dapat ditutup dengan memasang alat transkateter.
Sebelum intervensi non bedah berkembang, DAP yang tidak berespon pada terapi medikamentosa ditangani dengan mengikat duktus tersebut melalui sayatan di punggung kiri tanpa menggunakan mesin pintas jantung paru. Sekarang, DAP dapat ditutup tanpa operasi melalui alat yang dimasukan melalui kateter dari vena femoralis. (5)
Koarktasio Aorta
Merupakan stenosis atau penyempitan lokal dan segmen hipoplastik yang panjang.
Tindakan operatif, dengan tujuan menghilangkan stenosis dan regangan pada dinding aorta, serta mempertahankan patensi dari aorta. Reparasi segera sesudah diagnosis pada usia muda mempunyai resiko lebih kecil dibanding usia lebih lanjut. Sesudah 30-40 tahun, mortalitas intra operatif tinggi akibat adanya proses degenerasi pada dinding aorta.
Tindakan intervensi berupa angioplasti dengan atau tanpa implantasi stent merupakan pengobatan alternatif baik pada anak-anak maupun dewasa. Pada kondisi rekoarktasio, disepakati bahwa pilihan lebih kepada tindakan angioplasti baik dengan maupun tanpa stent. (3)
Tetralogi of Fallot
Malformasi yang terjadi pada kelainan ini meliputi stenosis katup pulmonal, defek septum ventrikel, deviasi katup aorta ke kanan sehingga kedua ventrikel bermuara ke aorta, serta hipertrofi ventrikel kanan. Operasi reparasi biasanya dilakukan pada masa anak-anak. Namun, dapat pula ditemukan TF pada dewasa tanpa tindakan operatif sebelumnya. Bila ditemukan pada dewasa, operasi masih dianjurkan karena hasilnya bila dibandingkan dengan operasi pada masa anak-anak sama baiknya.
Operasi yang dilakukan berupa penutupan DSV dan menghilangkan obstruksi pulmonal. Upaya menghilangkan obstruksi tersebut dapat dilakukan melalui valvulotomi pulmonal, reseksi otot infundibulum pada muara pulmonal, implantasi katup pulmonal baik homograft atau bioprotese katup babi, atau operasi pintas ekstra kardiak antara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dan dapat pula dilakukan angioplasti pada arteri pulmonalis sentral.
Terapi medikamentosa mencakup pemberian antibiotik untuk mencegah endokarditis, beta-blocker untuk menurunkan frekuensi denyut jantung sehingga menghindari terjadinya spell, dan bila perlu dapat dilakukan flebotomi. (3)
Walaupun perawatan definitif tetralogy of fallot adalah pembedahan, medikamoentosa berperan penting sebelum pembedahan serta setelah operasi. Pada bayi yang mengalami sianosis berat saat lahir, pemberian prostaglandin perlu dilakukan untuk menjaga duktus arterious tetap terbuka. Serangan hipoksia pada infant dapat ditangani secara awal dengan menempatkan bayi pada knee-chest position serta memberikan oksigen konsentrasi tinggi serta morfin sulfat. Jika asidosis tetap ada, dapat diberikan sodium bikarbonat intravena serta agonis alfa-adrenergik. Propanolol berguna dalam mencegah serangan hipoksia tersebut. (6)
disusun oleh Johny Bayu Fitantra
Daftar Pustaka
1                   Djer MM. Penatalaksanaan Penyakit Jantung Bawaan Tanpa Bedah. Health Technology Assesment Indonesia Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2007.
2                   Heartkids Victoria Incorporated, Family Support Group. Frequently Asked Questions. Departemen of Cardiology, Royal Children’s Hospital Website, Melbourne, 2000.
3                   Sudoyo dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Kardiologi: Penyakit Jantung Kongenital pada Dewasa. 5thed, jilid II. Jakarta: Internal Publishing; 2010. P. 1779-89.
4                   Futhuri SH. Majalah Farmacia. Atrial Septal Occluder (ASO): terapi intervensi non bedah ASD. Vol.8 No.4, November 2008
5                   O’Donnell C, Neutze JM, Skinner JR, Wilson NJ. Transcatheter Patent Ductus Arteriosus Occlusion: Evolution of Techniques and Results from the 1990s. J Pediatr Child Health 2001; 37:451-6.
6                   Fuster dkk. Hurst’s The Heart: Congenital Heart Diasease. 12thed. USA: McGraw-Hill; 2008.

CABG, OPERASI PINTAS JANTUNG KORONER ( BYPASS)


        CABG
1.         Definisi
Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan salah satu penanganan intervensi dari Penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan (Feriyawati, 2005).
CABG Off Pump (OPCAB) yaitu CABG yang dilakukan tanpa menggunakan mesin pintas jantung-paru atau Cardiopumonary Bypass sebagai pengobatan penyakit jantung koroner. Off-pompa bypass arteri koroner dikembangkan sebagai alternatif untuk menghindari komplikasi bypass cardiopulmonary selama operasi jantung. Komunitas medis percaya cardiopulmonary bypass menyebabkan penurunan kognitif pasca operasi yang dikenal sebagai sindrom postperfusion, namun penelitian tidak menunjukkan perbedaan jangka panjang antara on dan off pump  CABG
Selain itu OPCAB dikaitkan dengan manfaat klinis lain seperti penurunan risiko stroke atau masalah memori, pasien juga biasanya memiliki pemulihan lebih cepat dan perawatan di rumah sakit yang lebih pendek, lebih sedikit transfusi darah, serta mengurangi terjadinya masalah imflammatory / masalah respon imun yang tidak diinginkan. (Wikipedia, 2010)


Pada teknik CABG off Pump jantung berdenyut normal dan paru – paru pun berfungsi seperti biasa. Pada teknik operasi ini suhu diturunkan menjadi 280 – 320 C yang bertujuan untuk menurunkan kebutuhan jaringan akan oksigen seminim mungkin, heart rate dipertahankan antara 60 – 80 x/mnt, tekanan arteri dipertahankan 70 – 80 mmHg. Suhu diturunkan dengan cara pendinginan topical yaitu dengan cara :
 - Irigasi otot jantung dengan ringer dingin 40 C. jantung direndam dalam cairan.-
- Memakai ringer dingin seperti bubur (ice slush)

Trend dan Isu Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia


Trend dan Isu Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Keperawatan sebagai profesi dituntut untuk mengembangkan keilmuannya sebagai wujud kepeduliannya dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia baik dalam tingkatan preklinik maupun klinik. Untuk dapat mengembangkan keilmuannya maka keperawatan dituntut untuk peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya setiap saat.

Keperawatan medikal bedah sebagai cabang ilmu keperawatan juga tidak terlepas dari adanya berbagai perubahan tersebut, seperti teknologi alat kesehatan, variasi jenis penyakit dan teknik intervensi keperawatan. Adanya berbagai perubahan yang terjadi akan menimbulkan berbagai trend dan isu yang menuntut peningkatan pelayanan asuhan keperawatan.

Berdasarkan fenomena diatas, penulis tertarik untuk membahas Trend dan Isu Keperawatan Medikal Bedah serta Implikasinya terhadap Perawat di Indonesia.

1.2 Tujuan

  • Mengidentifikasi trend dalam keperawatan medikal bedah di Indonesia
  • Mengidentifikasi isu dalam keperawatan medikal bedah di Indonesia
  • Mengetahui implikasi trend dan isu keperawatan medikal bedah terhadap perawat di Indonesia

1.3 Manfaat

  • Meningkatkan pemahaman perawat terhadap perkembangan trend dan isu keperawatan medikal bedah di Indonesia
  • Sebagai dasar dalam mengembangkan ilmu keperawatan medikal bedah
  • Mengetahui keterkaitan keperawatan medikal bedah dengan trend dan isu yang berkembang dalam bidang kesehatan
  • Sebagai landasan dalam melakukan penelitian baik klinik dan preklinik







BAB II

Tinjauan Pustaka

Pelayanan kesehatan berkembang sangat pesat dengan sistem yang komplek, khususnya pada keperawatan medikal bedah, salah satu faktor yang berpengaruh yaitu perubahan kehidupan sosial masyarakat.

Trend dan isu dalam keperawatan medikal bedah merupakan salah satu komponen yang membentuk filosofi keperawatan dan penyedia layanan keperawatan pada abad 21. Burke and Lemone (1996) menjelaskan beberapa trend dan issue yang berkembang saat ini yaitu:

Perubahan populasi yang membutuhkan perawatan

Menurut data statistik menunjukkan 50 % pasien yang dirawat di ruang akut adalah usia >75 tahun dan 45 % yang dirawat di ruang critical care adalah usia 65 tahun.
Penduduk lansia

Jumlah penduduk lansia meningkat secara tajam sejak tahun 1900. Penduduk lansia saat ini berjumlah 12 % dari penduduk dunia. Lansia menderita penyakit kronik dan membutuhkan perawatan jangka lama, perawatan di rumah dan layanan komunitas. Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan, jika tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%) maka pada tahun 2006 jumlah lansia menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat (66,2 tahun). Pada tahun 2010 perkiraan penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada tahun 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun.
Pasien dengan HIV

Jumlah pasien dengan HIV meningkat secara tajam, lebih dari 40 juta jiwa, di Indonesia kasus AIDS sejak 1987 sampai dengan 2004 mencapai jumlah 2683 orang dan pada tahun 2005 jumlah penderita AIDS tercatat sekitar 2638 orang. Hal ini menggambarkan bahwa telah terjadi ledakan epidemi pada tahun 2005.
Penduduk miskin

Pada Maret 2007, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) di Indonesia sebesar 37,17 juta atau 16,58 persen dari total penduduk Indonesia saat ini sebesar 224,177 juta

 Hal ini dapat dikaitkan dengan ketidakmampuan penduduk miskin dalam membayar fasilitas layanan kesehatan sehingga pemerintah ikut bertanggung jawab dalam menyediakan layanan kesehatan bagi penduduk miskin.


Tunawisma

Berdasarkan data dari askes Indonesia menyebutkan bahwa sedikitnya 2,6 juta gelandangan, anak jalanan, dan orang sakit jiwa akan dimasukkan ke skema kepesertaan program jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) tahun 2008.

Hal ini merupakan tantangan bagi perawat medical bedah dalam menyediakan layanan asuhan keperawatan yang meliputi layanan kep[erawatan emergencyi, layanan kesehatan masyarakat, rawat jalan dan rawat inap (Burke and Lemone, 1996)

Pemakaian Teknologi Komputer dalam Keperawatan

Saat ini di Indonesia sedang dikembangkan telenursing, dimana asuhan keperawatan dilakukan jarak jauh (www.ppni.go.id). Pengembangan komputer dalam kesehatan meliputi sistem administrasi keperawatan, sistem diagnosa cepat, sistem jadwal dinas, pendidikan berkelanjutan, rekam medik, asuhan keperawatan (Burke and Lemone, 1996)

Sistem Layanan Kesehatan

Trend dan isu dalam sistem layanan kesehatan meliputi sistem upah, sistem rawat jalan, perawatan intensif dan rehabilitasi, pendidikan keperawatan berkelanjutan untuk tingkat spesialisasi, penentuan kebijakan dalam hal kualitas mutu rumah sakit dan berbasis komunitas

Peran perawat dalam sistem kebijakan kesehatan

Trend dan isu dalam kebijakan kesehatan meliputi restrukturisasi sistem pelayanan keperawatan, meminimalkan biaya kesehatan, managemen kasus, long term care


















BAB III

PEMBAHASAN


3.1 Trend Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia

Perkembangan trend keperawatan medikal bedah di Indonesia terjadi dalam berbagai bidang yang meliputi:

a. Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh)

Menurut Martono, telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Keuntungan dari teknologi ini yaitu mengurangi biaya kesehatan, jangkauan tanpa batas akan layanan kesehatan, mengurangi kunjungan dan masa hari rawat, meningkatkan pelayanan pasien sakit kronis, mengembangkan model pendidikan keperawatan berbasis multimedia

Tetapi sistem ini justru akan mengurangi intensitas interaksi antara perawat dan klien dalam menjalin hubungan terapieutik sehingga konsep perawatan secara holistik akan sedikit tersentuh oleh ners. Sistem ini baru diterapkan dibeberapa rumah sakit di Indonesia, seperti di Rumah Sakit Internasional. Hal ini disebabkan karena kurang meratanya penguasaan teknik informasi oleh tenaga keperawatan serta sarana prasarana yang masih belum memadai.

b. Prinsip Moisture Balance dalam Perawatan Luka

Trend perawatan luka yang digunakan saat ini adalah menjaga kelembaban area luka. Luka yang lembab akan dapat mengaktivasi berbagai growt factor yang berperan dalam proses penutupan luka, antara lain TGF beta 1-3, PDGF, TNF, FGF dan lain sebagainya.

Yang perlu diperhatikan adalah durasi waktu dalam memberikan kelembapan pada luka sehingga resiko terjadinya infeksi dapat diminimalkan. Selain itu prinsip ini juga tidak menghambat aliran oksigen, nitrogen dan unsur-unsur penting lainnya serta merupakan wadah terbaik untuk sel-sel tubuh tetap hidup dan melakukan replikasi secara optimal, sehingga dianggap prinsip ini sangat efektif untuk penyembuhan luka.

Hal ini akan berdampak pada layanan keperawatan, meningkatkan kepuasan pasien serta memperpendek lama hari perawatan. Namun demikian, prinsip ini belum diterapkan di semua rumah sakit di seluruh Indonesia.



c. Pencegahan HIV-AIDS pada Remaja dengan Peer Group

Remaja merupakan masa dimana fungsi reproduksinya mulai berkembang, hal ini akan berdampak pada perilaku seksualnya. Salah satu perilaku seksual yang rentan akan memberikan dampak terjadinya HIV-AIDS yaitu seks bebas. Saat ini sedang dikembangkan model ”peer group” sebagai salah satu cara dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan remaja akan kesehatan reproduksinya dengan harapan suatu kelompok remaja akan dapat mempengaruhi kelompok remaja yang lain.

Metode ini telah diterapkan pada lembaga pendidikan, baik oleh Depkes maupun lembaga swadaya masyarakat. Adapun angka kejadian AIDS pada kelompok remaja hingga Juni 2008 adalah sebesar 429 orang dan 128 orang remaja mengidap AIDS/IDU. Hal ini akan sangat mengancam masa depan bangsa dan negara ini.

Diharapkan dengan metode Peer Group dapat menurunkan angka kejadian, karena diyakini bahwa kelompok remaja ini lebih mudah saling mempengaruhi.

d. Program sertifikasi perawat keahlian khusus

Bermacam-macam program sertifikasi saat ini mulai berkembang dalam tatanan layanan keperawatan, khususnya pada bidang keperawatan medikal bedah misalnya sertifikasi perawat luka oleh INETNA, sertifikasi perawat anastesi, perawat emergency, perawat hemodialisa, perawat ICU, perawat ICCU, perawat instrument OK.

 Yang menjadi pertanyaan adalah apakah standarisasi setiap sertifikasi sudah sesuai dengan kompetensi perawat profesional karena menurut analisa kami program tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan yang jelas dari organisasi profesi dan terkesan hanya proyek dari lembaga-lembaga tertentu saja.

e. Hospice Home Care

Hospice home care adalah perawatan pasien terminal yang dilakukan di rumah setelah dilakukan perawatan di rumah sakit, dimana pengobatan sudah tidak perlu dilakukan lagi. Bidang garapnya meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual yang bertujuan dalam memberikan dukungan fisik dan psikis, dukungan moral bagi pasien dan keluarganya, dan juga memberikan pelatihan perawatan praktis.

Di Indonesia, metode perawatan ini di bawah pengelolaan Yayasan Kanker Indonesia. Sedangkan di beberapa rumah sakit yang lain program ini sudah dikembangkan, namun belum dilakukan secara legal.





f. One Day Care

Merupakan sistem pelayanan kesehatan dimana pasien tidak memerlukan perawatan lebih dari satu hari. Setelah menjalani operasi pembedahan dan perawatan, pasien boleh pulang. Biasanya dilakukan pada kasus minimal.

Berdasarkan hasil analisis beberapa rumah sakit, di Indonesia didapatkan bahwa metode one day care ini dapat mengurangi lama hari perawatan sehingga tidak menimbulkan penumpukkan pasien pada rumah sakit tersebut dan dapat mengurangi beban kerja perawat.

 Hal ini juga dapat berdampak pada pasien dimana biaya perawatan dapat ditekan seminimal mungkin.

g. Klinik HIV

Saat ini mulai berkembang klinik HIV di beberapa Rumah Sakit pemerintah maupun swasta. Hal ini dilakukan dalam usaha mendeteksi dini akan HIV dan mencegah penyebaran HIV di masyarakat.

Target penderita adalah kelompok masyarakat dengan resiko tinggi, misalnya pekerja sex, penderita HIV-AIDS, remaja, kelompok IDU (injection drug use). Klinik ini masih terbatas dikembangkan dibeberapa rumah sakit saja. Hal ini disebabkan karena kurangnya persiapan tenaga yang kompeten dalam bidang tersebut serta sarana dan prasarana yang masih minimal.

Selain itu masyarakat masih belum siap untuk memanfaatkan klinik ini, karena ada stigma dimasyarakat masih menganggap bahwa penyakit ini adalah penyakit kutukan dan harus dikucilkan. Namun demikian, dalam praktik nyata, telah ada wadah khusus dari Depkes RI untuk menjaring pengidap HIV/AIDS oleh VCT (Voluntary Counselling and Testing).

Usaha ini telah berhasil menjaring sejumlah pengidap AIDS dimana hingga bulan Juni 2008 telah terdeteksi 12.686 (Depkes, 2008). Dari sejumlah pasien ini, apabila diibaratkan dengan fenomena gunung es, maka sebenarnya disekeliling kita sudah terdapat banyak pasien dengan HIV/AIDS.

h. Klinik Rawat Luka

Saat ini mulai bermunculan klinik rawat luka yang dikelola oleh sekelompok perawat yang minat dalam perawatan luka. Klinik ini tidak lepas dari kolaborasi dokter-ners. Sifat layanannya dapat berupa home visit atau pasien berkunjung ke klinik secara langsung.



i. Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan

Sejak diakuinya perawat sebagai profesi yang profesional, saat ini mulai bermunculan organisasi profesi perawat kekhususan dalam keperawatan medikal bedah, misalnya HIPKABI (Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia), InETNA (Indonesia Enterostomal Therapy Nursing Association), IOA (Indonesia Ostomy Association), dan sebagainya.

Hal ini akan menjadi sarana bagi perawat untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih profesional dalam bidang garapan tertentu, namun demikian akan timbul permasalahan karena jenis keperawatan akan menjadi lebih bervariasi dan berdampak lebih luas pada organisasi keperawatan lebih luas karena akan terkesan terpetak-petak. Selain itu standar dari masing-masing kekhususnan belum jelas.

j. Pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit
dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah

Kegiatan-kegiatan penelitian diklinik akan mendukung kualitas pelayanan keperawatan dalam mendukung sistem pelayanan kesehatan. Kegiatan tersebut meliputi membentuk komite riset, menciptakan lingkungan kerja yang ilmiah, kebijakan kegiatan riset dan pemanfaatan hasilnya dan pendidikan berkelanjutan. Akan tetapi pelaksanaan di Indonesia belum maksimal.

Hal ini dibuktikan dengan minimnya kegiatan ilmiah keperawatan di rumah sakit, hasil penelitian jarang didiseminasikan dan dimanfaatkan untuk pengembangan praktik klinis keperawatan.

3.2 Isue Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia

  1. Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka.

Beberapa klinisi menganjurkan pemakaian tap water untuk mencuci awal tepi luka sebelum diberikan NaCl 0,9 %. Hal ini dilakukan agar kotoran-kotoran yang menempel pada luka dapat terbawa oleh aliran air.

Kemudian dibilas dengan larutan povidoneiodine yang telah diencerkan dan dilanjutkan irigasi dengan NaCl 0,9%. Akan tetapi pemakaian prosedur ini masih menimbulkan beberapa kontroversi karena kualitas tap water yang berbeda di beberapa tempat dan keefektifan dalam pengenceran betadine.

b. Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi rumah sakit mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri.




c. Prosedur rawat luka adalah kewenangan dokter

Ada beberapa pendapat bahwa perawatan luka adalah kewenangan medis, akan tetapi dalam kenyataannya yang melakukan adalah perawat sehingga dianggap sebagai area abu-abu. Apabila ditinjau dari bebarapa literatur, perawat mempunyai kewenangan mandiri sesuai dengan seni dan keilmuannya dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kerusakan integritas kulit.

c. Euthanasia: suatu issue kontemporer dalam keperawatan.

Saat ini mulai terdengar istilah euthanasia, baik aktif maupun pasif. Euthanasia aktif merupakan tindakan yang sengaja dilakukan untuk membuat seseorang meninggal. Sedangkan euthanasia pasif adalah tindakan mengurangi ketepatan dosis pengobatan, penghilangan pengobatan sama sekali atau tindakan pendukung lainnya yang dapat mempercepat kematian seseorang.

d. Pengaturan sistem tenaga kesehatan

Sistem tenaga kesehatan di Indonesia saat ini belum tertata dengan baik, pemerintah belum berfokus dalam memberikan keseimbangan hak dan kewajibaan antar profesi kesehatan. Rasio penduduk dengan tenaga kesehatan pada tahun 2003 menunjukkan perawat 108,53, bidan 28,40 dan dokter 17,47 per 100.000 penduduk. Berdasarkan hasil penelitian dari DEPKES menyebutkan bahwa puskesmas belum mempunyai sistem penghargaan bagi perawat.

e. Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah dibandingkan S1

Dengan alasan tidak kuat menggaji lulusan S1 Keperawatan, banyak rumah sakit pemerintah dan swasta yang menyerap lulusan D3 keperawatan. Dilihat dari jumlah formasi seleksi CPNS, jumlah S1 sedikit dibutuhkan dibandingkan D3 keperawatan. Hal ini akan berdampak pada kualitas layanan asuhan keperawatan pada lingkup medikal bedah yang hanya berorientasi vokasional tidak profesional.

f. Peran dan tanggung jawab yang belum ditetapkan sesuai dengan jenjang pendidikan sehingga implikasi di rs antara DIII, S1 dan Spesialis belum jelas terlihat.









BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

a. Trend Keperawatan Medikal Bedal Bedah dan Dampaknya di Indonesia.

Beberapa trend yang terjadi dalam Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia, diantaranya adalah: telenursing, Prinsip Moisture Balance dalam Perawatan Luka, Pencegahan HIV-AIDS pada Remaja dengan Peer Group, Program sertifikasi perawat keahlian khusus, Hospice Home Care, One Day Care, Klinik HIV, Klinik Rawat Luka, Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan, Pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah.

Disadari bahwa semua trend tersebut belum seutuhnya diterapkan dalam pelayanan keperawatan di seluruh Indonesia.

b. Isu dalam Keperawatan Medikal Bedah dan Dampaknya di Indonesia

Beberapa isue yang berkembang dalam Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia, antara lain: Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka, Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi rumah sakit mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri, Prosedur rawat luka adalah kewenangan dokter, Euthanasia: suatu issue kontemporer dalam keperawatan, Pengaturan sistem tenaga kesehatan, Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah dibandingkan S1, dan Peran dan tanggung jawab yang belum ditetapkan sesuai dengan jenjang pendidikan sehingga implikasi di rs antara DIII, S1 dan Spesialis belum jelas terlihat.

4.2 Saran

a. Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap berbagai trend dan isu keperawatan medikal bedah di Indonesia sehingga dapat dikembeangkan dalam tatanan layanan keperawatan.

b. Diharapkan agar perawat bisa menindaklanjuti trend dan isu tersebut melalui kegiatan riset sebagai dasar untuk pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah.

KEBUTUHAN OKSIGEN


KEBUTUHAN OKSIGEN

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Oksigen dibutuhkan orang untuk mempertahankan hidupnya . perawat sering sekali menemukan klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigennya. Dalam hal ini di butuhkan fungsi system pernafasan dan jantung yang berfungsi sebagai penyuplai kebutuhan oksigen tubuh.

Fisiologi jantung mencakup pengaliran darah yang membawa oksigen dan sirkulasi paru ke sisi kiri jantung dan jaringan serta mengalirkan darah yang tidak mengandung oksigen ke system pulmonar. Fisiologi pernafasan meliputi oksigenasi tubuh melalui mekanisme ventilasi , perfusi dan transfor gas pernafasan . pengaturan syaraf dan kimiawi mengontrol fluktuasi dalam frekwensi dan kedalaman pernafasan untuk memenuhi perubahan kebutuhan oksigen jaringan.












B. TUJUAN

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok yang di berikan oleh dosen mata kuliah IKD IV dan untuk menambah wawasan kami tentang apa yang akan di bahas dalam makalah ini


C. PERMASALAHAN

1. Apa itu oksigen dan oksigenasi
2. Memaparkan Fisiologi pernafasan
3. Apa yang mempengaruhi oksigenasi
4. Bagaimana proses perawatan pada klien dengan masalah oksigenasi



















BAB II

PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN OKSIGEN DAN OKSIGENASI

Oksigen (O2) adalah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Sedangkan Oksigenasi adalah peroses mempertahankan hidup menghirup oksigen dan mengeluarkan hasil oksidasinya dalam bentuk karbon dioksida.

B. FISIOLOGI PERNAFASAN

Sebagian besar sel dalam tubuh memperoleh energy dari reaksi kimia yang melibatkan oksigen dan pembuangan karbondioksida. Pertukaran gas pernafasan terjadi antara udara di lingkungan dan darah. Pernafasan dapat berubah karena kondisi atau penyakit yang mengubah struktur dan fungsi paru . Menurut McCance Huether ( 1994 ) terdapat tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu

a. Ventilasi

Ventilasi adalah proses untuk menggerakkan gas ke dalam dan keluar paru – paru . ventilasi membutuhkan kondisi otot paru dan thoraks yang elastic dan pernafasan yang utuh.







b. Perfusi

Fungsi utama sirkulasi paru adalah mengalirkan darah ke dan dari membrane kaviler alveoli sehingga dapat berlangsung pertukran gas

c. Difusi

Merupakan gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah.
Agar pertukaran gas dapat terjadi organ , saraf , dan otot pernafasan harus uuh dan dan system saraf pusat mampu mengatur siklus pernafasan.


C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OKSIGENASI

Keadekuatan sirkulasi , ventilasi , perfusi dan transport gas gas ke jaringan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu
1. Fisiologis
2. Perkembangan
3. Prilaku
4. Lingkungan











1. Faktor Fisiologis

Setiap kondisi yang mempengaruhi kardiopulmonar secaralangsung akan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen. gangguan pernafasan meliputi Hyperventilasi , hivoventilasi , dan hipoksia.

Proses psiologis lain yang mempengaruhi proses oksigenasi pada klien termasuk perubahan yang mempengaruhi kapasitas darah untuk membewa oksigen seperti anemia , peningkatan kebutuhan metabolism seperti kehamilan atau demam dan infeksi , dan perubahan yang mempengaruhi gerakan dinding dada atau system saraf pusat.

2. Faktor Perkembangan

Tahap perkembangan klien dan proses penuaan mempengaruhi proses oksigenasi jaringan

a. Bayi prematur

Bayi premature beresiko terkena penyakitmembran hialin yang juga disebabkan oleh defisiasi surfaktan. Kemampuan paru untuk mensintesis surfaktan berkembang lambat pada masa kehamilan , yakni pada sekitar bulan ke tujuh oleh karena itu bayi premature tidak memiliki surfaktan.

b. Bayi dan toodler

Adanya resiko infeksi saluran pernafasan atas sebagai hasil pemaparan yang sering pada anak anak lain dan pemaparan asap dari rokok yang dihisap orang lain.



c. Anak usia sekolah dan remaja

Mengalami resiko saluran pernafasan seperti karena menghisap asap rokok dan merokok

d. Dewasa muda dan pertenggahan

diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru

e. Dewasa tua
Disebabkan karena adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.

3. Faktor Prilaku

prilaku maupun gaya hidup baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kebutuhan tubuh dalam memenuhi kebutuhan oksigen. Faktor factor gaya hidup yang mempengaruhi oksigenasi adalah sbb :

a) Nutrisi

misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang terlalu tinggi lemak menimbulkan arteriosklerosis.






b) Latihan Fisik

Latihan fisik meningkatkan aktivitas metabolism tubuh dan kebutuhan oksigen prekwensi dan kedalaman pernafasan meningkat..

c) Merokok

Pada rokok terdapat zat yang bernama nikotin, nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan koroner.


d) Substance abuse (alkohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi (Fe) menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depesi pusat pernafasan

e) Kecemasan : menyebabkan metabolisme meningkat


Faktor Lingkungan

Lingkungan juga mempengaruhi oksigenasi. Insiden penyakit paru lebih tinggi di daerah yang berkabut dan perkotaan daripada di daerah pedesaan. Selain itu Seperti Tempat kerja juga dapat mempengaruhi oksigenasi .
Tempat kerja dapat meningkatkan resiko terkena penyakit paru . polutan ditempat kerja seperti asbestos , bedak talk , debu dan serabut yang di bawa udara















D. OKSIGENASI TIDAK ADEKUAT

A. Perubahan fungsi jantung

Perubahan-perubahan fungsi jantung disebabkan oleh penyakit dan kondisi yang mempengaruhi irama jantung . ada beberapa gangguan yang menyebabkan perubahan fungsi jantung adalah sebagai berikut:

·       Gangguan Konduksi Gangguan konduksi (hantaran) seperti distritmia (takikardia/bradikardia)
2.
·       Perubahan Cardiac Output (Curah Jantung) Menurunnya cardiac output seperti pada pasien dekom menimbulkan hipoksia Jaringan.
·       3. Kerusakan fungsi katub seperti pada stenosis, obstruksi, regurgitasi darah yangmengakibatkan vetrikel bekerja lebih keras.
·       4. Myocardial iskhemial infrark mengakibatkan kekurangan pasokan darah dariarteri koroner ke miokardium.






B. Perubahan fungsi pernafasan

1. Hiperventilasi

Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah Oksigen dalam paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam.
Hiperventilasi dapat disebabkan karena :

·       Kecemasan
·       Infeksi / sepsis
·       Keracunan obat-obatan
·       Kertidakseimbangan asam basa seperti pada asidosis metabolic
Tanda-tanda dan gejala hiperventilasi adalah takikardia, napas pendek, nyeri dada (chest pain), menurunnya konsentrasi, disorientasi, tinnitus.

2. Hipoventilasi

Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup, biasanya terjadi pada keadaan atelektasis (kolaps paru). Tanda-tanda dan gejala pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, kardiakdistritma, ketidakseimbangan elektrolit, kejang, dan kardiak arrest.








3. Hipoksia

Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi atau meningkatnya penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan oleh :

·       Menurunya hemoglobin
·       Berkurangnya konsentrasi O2 jika berada di puncak gunung
·       Ketidakmampuan jaringan mengikat O2 seperti keracunan sianidaMenurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah seperti pada pneumonia
·       Menurunnya perfusi jaringan seperti syok Kerusakan / gangguan ventilasi
Tanda-tanda hipoksia antara lain : kelelehan, kecemasan, menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan cepat dan dalam, sianosis dan clubbing.


















E. PROSES KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH OKSIGENASI

A. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian di lakukan harus mencakup data yang dikumpulkan dari sumber berikut.:

1. Riwayat keperawatan fungsi kardiopulmonal normal klien dan fungsi kardiopulmonal saat ini . kerusakan fungsi sirkulasi dan fungsi pernafasan pada masa yang lalu , serta tindakan klien yang digunakan untuk mengoptimalkan oksigenasi.

2. Pemeriksaan fisik kardiopulmonal klien termasuk inspeksi , palpasi , perkusi dan auskultasi.

3. Peninjauan kembali hasil pemerisaan laboratorium dan hasil pemeriksaan diagnosik .

















B. Diagnosa Keperawatan

Klien yang mengalami perubahan tingkat oksigenasi dapat memiliki diagnose keperawatan yang awalnya dari kardiovaskular atau pulmoner. Setiap diagnose keperawatan harus didasarkan pada karakteristik dan melibatkan etiologi terkait . label diagnosik livaldasi dengan menggunakan batasan karakteristik atau tanda dan gejala.


C. Perencanaan keperawatan (intervensi)

Klien yang mengalami kerusakan oksigenasi membutuhkan rencana asuhan keperawatan yang ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi actual dan potencial klien. Sasaran individual berasal dari kebutuhan berpusat pada klien . perawat mengidentifikasikan hasil akhir khusus asuhan keperawatan yang diberikan . sasaran tersebut meliputi satu atau lebih ]

sasaran yang berpusat pada klien brikut ini.

1.    Klien dapat mempertahankan kepatenan jalan nafas
2. Klien mempertahankan dan meningkatkan ekspansi paru
3. Klien mengeluarkan sekresi paru
4. Klien mencapai peningkatan toleransi aktivitas
5. Oksigenasi jaringan dipertahankan atau ditingkatkan
6. Fungsi kardiopulmonar klien diperbaiki dan dipertahankan.








D. Pelaksanaan keperawatan (implementasi)) Intervensi

2.    keperawatan untuk meningkatkan dan mempertahankanoksigenasi tercakup dalam domain keperawatan . pemberian dan pemantauan intervensi dan program terapeutik . hal ini meliputi tindakan keperawatan mandiri seperti prilaku peningkatan kesehatan dan upaya pencegahan , pengaturan posisi , tehnik batuk dan intervensi mandiri atau tidak mandiri seperti terapi oksigen. Teknik inflasi paru , hidrasi, fisioterafi dada , dan obat obatan.



E. Evaluasi

Intervensi dan terapi perawatan dievaluasi dengan membandingkan kemajuan pencapaian klien terhadap tujuan intervensi dan hasil akhir yang diharapkan dari rencana ASKEP setiap tujuan dan kategori intervensi memiliki criteria evaluasi.

Apabila tindakan keperawatan yang dilakukan untuk meningkatkan
oksigenasi tidak berhasil , maka perawat harus segera memodifikasi rencana asuhan keperawatan intervensi yang baru kemudian dikembangkan . perawat tidak perlu ragu untuk memberitau dokter tentang status klien yang buruk . pemberitauan yang cepat dapat menghindari situasi darurat bahkan menghindari perlunya resusitasi jantung paru.








BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagian besar sel dalam tubuh memperoleh energy dari reaksi kimia yang melibatkan oksigen dan pembuangan karbondioksida. Pertukaran gas pernafasan terjadi antara udara di lingkungan dan darah. Pernafasan dapat berubah karena kondisi atau penyakit yang mengubah struktur dan fungsi paru

Menurut McCance Huether ( 1994 ) terdapat tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu :

·       Ventilasi
·        Perfusi
·       Difusi
·       Keadekuatan sirkulasi , ventilasi , perfusi dan transport gas gas ke jaringan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu
·       Fisiologis
·       Perkembangan
·        Prilaku
·       Lingkungan

Perubahan-perubahan fungsi jantung disebabkan oleh penyakit dan kondisi yang mempengaruhi irama jantung

KEBUTUHAN ELIMINASI


KEBUTUHAN ELIMINASI

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia merupakan salah satu makhluk hidup. Dikatakan sebagai makhluk hidup karena manusia memiliki cirri-ciri diantaranya: dapat bernafas, berkembangbiak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan makan, dan megeluarkan sisa metabolisme tubuh (eliminasi). Setiap kegiatan yang dilakukan tubuh dikarenakan peranan masing-masing organ.
Membuang urine dan alvi (eliminasi) merupakan salah satu aktivitas pokok yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena apabila eliminasi tidak dilakukan setiap manusia akan menimbulkan berbagai macam gangguan seperti retensi urine, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung. Selain berbagai macam yang telah disebutkan diatas akan menimbulkan dampak pada system organ lainnya seperti: system pencernaan, ekskresi, dll.


1.2 Tujuan Masalah

1) Mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan eliminasi.
2) Mengetahui organ-organ yang berperan dalam eliminasi
3) Menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi
4) Mengetahui gangguan/masalah kebutuhan eliminasi urine
5) Mengetahui tindakan mengatasi masalah eliminasi urine

1.3 Rumusan Masalah

1) Apa saja sistem tubuh yang berperan dalam eliminasi urine dan eliminasi alvi (buang air besar)?
2) Bagaimana proses berkemih dan proses buang air besar?
3) Apa saja faktor yang memengaruhi eliminasi urine dan defekasi (proses buang air besar)?
4) Apa saja gangguan atau masalah kebutuhan eliminasi urine dan eliminasi alvi?
5) Apa saja tindakan untuk mengatasi masalah eliminasi urine dan eliminasi alvi?










BAB II

PEMBAHASAN

Eliminasi adalah proses pembuangan sisia metabolisme tubuh baik berupa urine atau alvi (buang air besar). Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).

2.1 Organ yang berperan dalam Eliminasi Urine

a. Ginjal
Merupakan organ retropenitoneal (di belakang selaput perut) yang terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal berperan sebagi pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh.

b. Kandung kemih (bladder, buli-buli)
Merupakan sebuah kantung yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai penampung air seni (urine).

c. Uretra
Merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar.

2.2 Proses Berkemih

Urine normalia adalah pengeluaran cairan yang prosesnya tergantung pada fungsi organ-organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder dan uretra.
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria berisi ± 250-450 cc (pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak-anak).

Ginjal memindahkan air dari darah berbentuk urine. Ureter mengalirkan urine ke bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu. Kemudian dikeluarkan melalui uretra.

Komposisi urine :

a. Air (96%)
b. Larutan (4%)
Larutan Organik: Urea, ammonia, keratin, dan asam urat
Larutan Anorganik: Natrium (sodium), klorida, kalium (potasium), sufat, magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.






2.3 Faktor yang Memengaruhi Eliminasi Urine

a. Diet dan asupan
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi output urine (jumlah urine). Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk.selain itu, minum kopi juga dapat meningkatkan pembentukan urine.

b. Respon keinginan awal untuk berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal utnuk berkemih dapat menyebabkan urin banyak tertahan di vesika urinaria, sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine

c. Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas toilet.

d. Stress psikologis
Meningkatkan stres dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.

e. Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinearia yang baik untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot di dapatkan dengan beraktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinearia dapt menyebabkan

f. Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih mengalami mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun kemampuan dalam mengontrol buang air kecil meningkat dengan bertambahnya usia

g. Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes mellitus.

h. Sosiokultural
Budaya dapat memegaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur pada pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.

i. Kebiasaan seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemh di toilet, biasanya mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.






j. Tonus otot
Tonus otot yang berperan penting dlam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran urine

k. Pembedahan
Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai dampak dari pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan penurunan jumlah produksi urine.

l. Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan proses perkemihan.

m. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat memengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus pyelogram (IVP).

2.4 Gangguan/Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine
a. Retensi urine,merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih.

b. Inkontinensia urine, merupakan ketidakmampuan otot sphincter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine.

c. Enuresis, merupakan ketiksanggupan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksterna.

d. Perubahan pola eliminasi urine, merupakan keadaan sesorang yang mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi anatomis, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan eliminasi terdiri atas : Frekuensi, Urgensi, Disuria, Poliuria, Urinaria supresi.


2.5 Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Urine

a. Pengumpulan Urine untuk Bahan Pemeriksaan
b. Menolong Buang Air Kecil dengan Menggunakan Urineal
c. Melakukan kateterisasi









2.6 Pengkajian Eliminasi Urine

a. Frekuensi

Frekuensi untuk berkemih tergantung kebiasaan dan kesempatan. Banyak orang-orang berkemih kira-kira 70 % dari urine setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk berkemih pada malam hari. Orang-orang biasanya berkemih : pertama kali pada waktu bangun tidur, sebelum tidur dan berkisar waktu makan.

b. Volume
Volume urine yang dikeluarkan sangat bervariasi.

Usia Jumlah / hari
•1 Hari pertama & kedua dari kehidupan 15 – 60 ml
•2 Hari ketiga – kesepuluh dari kehidupan 100 – 300 ml
•3 Hari kesepuluh – 2 bulan kehidupan 250 – 400 ml
•4 Dua bulan – 1 tahun kehidupan 400 – 500 ml
•5 1 – 3 tahun 500 – 600 ml
•6 3 – 5 tahun 600 – 700 ml
•7 5 – 8 tahun 700 – 1000 ml
•8 8 – 14 tahun 800 – 1400 ml
•9 14 tahun – dewasa 1500 ml
•10 Dewasa tua 1500 ml / kurang

Jika volume dibawah 500 ml atau diatas 300 ml dalam periode 24 jam pada orang dewasa, maka perlu lapor.

c. Warna

Normal urine berwarna kekuning-kuningan, obat-obatan dapat mengubah warna urine seperti orange gelap. Warna urine merah, kuning, coklat merupakan indikasi adanya penyakit.

d. Bau

Normal urine berbau aromatik yang memusingka. Bau yang merupakan indikasi adanya masalah seperti infeksi atau mencerna obat-obatan tertentu.

e. Berat jenis

Adalah berat atau derajat konsentrasi bahan (zat) dibandingkan dengan suatu volume yang sama dari yang lain seperti air yang disuling sebagai standar. Berat jenis air suling adalah 1, 009 ml dan normal berat jenis : 1010 – 1025



f. Kejernihan :

ÞNormal urine terang dan transparan
Þ Urine dapat menjadi keruh karena ada mukus atau pus.
g. pH :
Þ Normal pH urine sedikit asam (4,5 – 7,5)
Þ Urine yang telah melewati temperatur ruangan untuk beberapa jam dapat menjadi alkali karena aktifitas bakteri
Þ Vegetarian urinennya sedikit alkali.
h. Protein :
Þ Normal : molekul-molekul protein yang besar seperti : albumin, fibrinogen, globulin, tidak tersaring melalui ginjal —- urine
Þ Pada keadaan kerusakan ginjal, molekul-molekul tersebut dapat tersaring urine
Þ Adanya protein didalam urine disebut proteinuria, adanya albumin dalam urine disebut albuminuria.

i. Darah :

Þ Darah dalam urine dapat tampak jelas atau dapat tidak tampak jelas.
Þ Adanya darah dalam urine disebut hematuria.

j. Glukosa :

Þ Normal : adanya sejumlah glukosa dalam urine tidak berarti bila hanya bersifat sementara, misalnya pada seseorang yang makan gula banyak menetap pada pasien DM
Þ Adanya gula dalam urine disebut glukosa



















2.7 Sistem yang Berperan dalam Eliminasi Alvi

Sistem tubuh berperan dalam proses eliminasi alvi (buang air besar) adalah sistem gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar.


2.8 Proses Buang Air Besar (Defekasi)

Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat ang menguasai refleks untuk defekasi, yang terletak di medula dan sumsum tulang belakang.

Secara umum, terdapat dua macam terdapat dua macam refleks yang membantu proses defekasi yaitu refleks defekasi intrinsic dan refleks defekasi parasimpatis.
2.9 Gangguan / Masalah Eliminasi Alvi

a. Konstipasi

Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga mengalami eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja yang keluar jadi terlalu kering dan keras.

b. Diare

Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair. Diare sering disertai kejang usus, mungkin ada rasa mula dan muntah

c. Inkontinesia usus

Inkontinesia usus merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal, sehingga mengalami proses pengeluaran feses tidak disadari. Hal ini juga disebut sebagai inkontinensia alvi yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sphincter akibat kerusakan sphincter.












d. Kembung

Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas berlebihan dalam lambung atau usus

e. Hemorroid

Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi dan lain-lain

f. Fecal Impaction

Fecal impaction merupakann massa feses karena dilipatan rektum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Penyebab fecal impaction adalah asupan kurang, aktivitas kurang, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.

2.10 Faktor yang Memengaruhi Proses Defekasi

a. Usia

Setiap tahap perkembangan/usia memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda.

b. Diet

Diet, pola atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang dikonsumsipun dapat memengaruhinya

c. Asupan cairan

Pemasukana cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi menjadi keras. Oleh karena itu, proses absopsi air yang kurang menyebabkan kesulitan proses defekasi.

d. Aktivitas

Aktivitas dapat memengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi

e. Pengobatan

Pengobatan juga dapat memengaruhinya proses defekasi, seperti penggunaan laksantif, atau antasida yang terlalu sering.



f. Gaya hidup

Kebiasaan atau gaya hidup dapat memengaruhi proses defekasi. Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/ kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet, etika seseorang tersebut buang air besar di tempat terbuka atau tempat kotor, maka akan mengalami kesulitan dalam proses defekasi.

h. Penyakit

Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses defekasi, biasanya penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan system pencernaan, seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.

i. Nyeri

Adanya nyeri dapat memengaruhi kemampuan / keinginan untuk defekasi seperti nyeri pada kasus hemorrhoid atau episiotomi


j. Kerusakan sensoris dan motoris

Kerusakan pada system sensoris dan motoris dapat memengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam melakukan defekasi.



2.11 Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Alvi (Buang Air Besar)

  1. Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan
    b. Membantu pasien buang air besar dengan pispot
    c. Memberikan huknah rendah
    d. Memberikan huknah tinggi
    e. Memberikan gliserin
    f. Mengeluarkan feses dengan jari












BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).

 Organ yang berperan dalam eliminasi urine adalah: ginjal, kandung kemih dan uretra. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine terjadi proses berkemih. Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih).

Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine adalah diet, asupan, respon keinginan awal untuk berkemih kebiasaan seseorang dan stress psikologi. Gangguan kebutuhan eliminasi urine adalah retensi urine, inkontinensia urine dan enuresis

tindakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan, buang air kecil dengan urineal dan melakukan katerisasi.

Sedangkan system tubuh yang berperan dalam proses eliminasi alvi atau buang air besar adalah system gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi terjadi proses defekasi.

 Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi antara lain: usia, diet, asupan cairan, aktifitas, gaya hidup dan penyakit.

Gangguan eliminasi alvi adalah konstipasi, diare, kembung dan hemorrhoid. Tindakan untuk mengatasinya adalah menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan, membantu pasien buang air besar dengan pispot dan memberikan gliserin.